Jaksa Ungkap Mens Rea Nadiem dalam Pengadaan Chromebook Lewat Replik
Jaksa meyakini Nadiem sudah sangat sengaja dalam melakukan pengadaan Chromebook saat menjabat sebagai menteri.
Anggota Jaksa Penuntut Umum (JPU) Paul, mengungkap letak mens rea atau niat jahat dari Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim soal pengadaan laptop chromebook yang disebut merugikan negara Rp 2,1 triliun. Saat membacakan replik, dia meyakini Nadiem sudah sangat sengaja dalam melakukan pengadaan terkait saat menjabat sebagai menteri.
"Dengan pernyataan itu sudah jelas, mens rea dan kesengajaan dia. Kenapa sangat jelas mens rea dan kesengajaan? Karena dia sudah tahu berbagai anggota PNS-nya, direkturnya, itu menolak penggunaan Chromebook, tapi dia memaksakan itu sehingga niat dia untuk melanggar aturan, menabrak Perpres nomor 16 (tahun) 18 tentang Pengadaan Barang dan Jasa begitu jelas," kata Paul di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Keyakinan Jaksa
Paul melanjutkan, hal kedua yang mendukung keyakinan jaksa akan adanya mensrea ketika dalam acara halal bihalal, Nadiem menyampaikan, akan melakukan digitalisasi pendidikan dengan menggunakan Chromebook setelah pelantikan Direktur SMP dan SD. Dari perkataan, diejawantahkan dan dilaksanakan oleh Mulyatsah selaku direktur SMP dan Sri Wahyuningsih selaku direkutur SD, dalam hal pengadaan Chromebook dengan menggunakan spesifikasi dari Chrome OS.
"Dari situ juga dapat tergambar bahwa niat jahat, mens rea Nadiem untuk mau menabrak aturan itu sangat kuat. Pertanyaannya, di mana tidak ada mens rea? Di mana ada tidak kesengajaan dari Nadiem? Dari situ saja kita dapat melihat Nadiem dengan sangat-sangat sengaja," tegas Paul.
Menabrak Aturan
Paul menyambung, mens rea Nadiem tak cukup sampai di situ. Fakta ketiga mens rea Nadiem didapatkan dari fakta persidangan yang berasal keterangan Ibrahim Arief alias Ibam selaku mantan konsultan Kemendikbudristek, di mana Ibam ditugaskan Nadiem untuk menemui orang Chromebook.
"Nah, ketika orang Google, ketika dia bertemu, orang Google menyampaikan bahwa penggunaan Chromebook ini tidak kompatibel, comply, dengan sistem-sistem pendidikan yang dibangun oleh Kementerian Pendidikan. Ketika dia melaporkan begitu ke Nadiem, Nadiem menyatakan kepada Ibam: 'Kamu percayakan kepada mereka yang besar ini, artinya percayakan kepada mereka (Google)'. Fakta ini sangat jelas, kesengajaan dari Nadiem, mens rea Nadiem," ungkap Paul.
Paul meyakini, Nadiem sejatinya tahu bahwa chromebook tidak cocok untuk pelajar di Indonesia. Namun dia mengklaim, Nadiem tetap memaksakannya atas keinginan pribadi.
"Dia mengetahui dan dia menghendaki. Mengetahui bahwa ini tidak boleh, dan dia menghendaki bahwa aturan itu harus ditabrak. Ya kan? Sampai di sini sangat jelas, itu fakta formil," Paul menandasi.