Gus Irfan Didorong Maju Jadi Caketum PBNU
Salah satu nama yang mulai mendapat sorotan ialah Menteri Haji dan Umrah, KH Mochamad Irfan Yusuf Hasyim atau Gus Irfan.
Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 pada Agustus 2026, dukungan terhadap sejumlah figur calon pemimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai bermunculan.
Salah satu nama yang mulai mendapat sorotan ialah Menteri Haji dan Umrah, KH Mochamad Irfan Yusuf Hasyim atau Gus Irfan.
Dukungan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, KH Zainul Ibad As’ad atau Gus Ulib. Ia menilai Gus Irfan merupakan figur yang memiliki kapasitas memimpin NU di tengah tantangan organisasi yang semakin kompleks.
Menurut Gus Ulib, NU membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga kehormatan dan marwah organisasi, bukan menjadikan NU sebagai alat kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.
“Bukan sosok yang hidup dari NU, memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi maupun kelompok,” kata Gus Ulib, Rabu (20/5).
Ia menilai latar belakang Gus Irfan sebagai dzurriyah pendiri NU KH Hasyim Asy’ari menjadi salah satu faktor penting. Selain memiliki akar kuat di lingkungan pesantren, Gus Irfan juga dinilai mempunyai kemampuan manajerial yang telah teruji di tingkat nasional.
“Beliau ini dzurriyah Mbah Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Juga memiliki kemampuan manajerial yang tidak perlu diragukan lagi. Kapabilitas dan integritasnya sangat layak untuk memimpin PBNU ke depan,” ujarnya.
Muktamar PBNU
Dinamika internal NU sendiri mulai menghangat menjelang muktamar yang dijadwalkan berlangsung pada 1-5 Agustus 2026.
Berbagai manuver organisasi mulai terlihat, baik melalui pengusungan tokoh maupun pembentukan dukungan di tingkat pesantren dan daerah.
Dalam pandangan Gus Ulib, posisi Gus Irfan sebagai Menteri Haji dan Umrah di kabinet Presiden Prabowo Subianto justru dapat menjadi nilai strategis bagi NU. Menurutnya, komunikasi dengan pemerintah dapat terbangun lebih baik tanpa harus menghilangkan sikap independen organisasi.
Ia menegaskan muktamar mendatang harus menjadi momentum perubahan bagi NU agar tetap menjadi organisasi yang mandiri secara politik, finansial, dan intelektual.
“NU tetap harus menjadi payung besar bagi semua kader NU di berbagai partai dan kelompok,” katanya.
Selain menyoroti figur kepemimpinan, Gus Ulib juga meminta seluruh panitia muktamar menjaga netralitas selama proses berlangsung.
Ia berharap forum tertinggi NU tersebut dapat berjalan adil, bermartabat, serta tidak memicu konflik baru di internal organisasi.