Gubernur Sulsel Respons Opsi Modifikasi Cuaca untuk Percepat Pencarian Korban Pesawat ATR di Pangkep
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mendukung penuh opsi Modifikasi Cuaca demi kelancaran evakuasi korban pesawat ATR di Gunung Bulusaraung. Langkah ini diharapkan mengatasi kendala cuaca ekstrem dan mempercepat proses pencarian.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tengah berupaya keras mempercepat proses pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500. Insiden tragis ini terjadi di wilayah Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Cuaca ekstrem menjadi kendala utama bagi tim SAR gabungan dalam menjalankan tugasnya.
Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, merespons positif opsi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi kendala tersebut. Opsi ini diharapkan membuka akses lebih luas, terutama untuk evakuasi melalui jalur udara. Dukungan penuh diberikan untuk kelancaran operasi ini.
Rencana Modifikasi Cuaca akan segera diajukan secara resmi kepada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Tujuannya adalah agar hujan tidak lagi menjadi penghalang utama dalam operasi pencarian dan evakuasi yang sedang berlangsung. Ini menjadi langkah krusial dalam misi kemanusiaan ini.
Upaya Pemerintah Daerah Atasi Kendala Cuaca Ekstrem
Gubernur Andi Sudirman Sulaiman menegaskan bahwa kendala cuaca ekstrem menjadi tantangan utama dalam operasi pencarian. Oleh karena itu, pihaknya akan segera menyurati BMKG untuk pelaksanaan Modifikasi Cuaca. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses evakuasi korban pesawat ATR yang terkendala.
“Memang ada kendala-kendala cuaca. Kita hari ini Insya Allah bersurat (ke BMKG) untuk melaksanakan modifikasi cuaca,” ujar Gubernur Andi Sudirman Sulaiman di Posko SAR AJU, Desa Tompo Bulu, Pangkep. Ia berharap akses evakuasi dari udara dapat lebih luas setelah modifikasi cuaca dilakukan.
Proses penyuratan kepada BMKG telah dilakukan pada hari yang sama. Gubernur berharap Modifikasi Cuaca dapat segera dilaksanakan untuk memastikan kelancaran operasi. Koordinasi intensif dengan BMKG terus dilakukan demi keberhasilan upaya ini.
Dukungan BMKG dan Mekanisme Modifikasi Cuaca
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menyatakan kesiapan pihaknya dalam mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Dukungan ini bertujuan untuk memastikan kelancaran evakuasi dan pencarian korban lainnya. BMKG siap mengerahkan sumber daya yang diperlukan.
Nasrol Adil menjelaskan bahwa Modifikasi Cuaca akan membantu tim SAR udara bekerja lebih maksimal. “Modifikasi cuaca ini supaya teman-teman bisa lihat, ini cuaca yang mungkin agak mengganggu dari operasi udara,” katanya. Pesawat khusus BKSSN dari Semarang telah disiapkan menuju Makassar untuk mendukung operasi ini.
Sistem OMC melibatkan penaburan bahan tertentu seperti Kalsium Oksida (CaO) di lokasi pencarian. Bahan ini berfungsi untuk mengendalikan curah hujan atau mengurangi pembentukan awan hujan. “Biasanya kalau untuk darat itu CaO kapur, untuk menghilangkan potensi awan-awan hujan,” papar Nasrol.
Proses ini membuat awan-awan hujan lebih menguap, mirip dengan cara kerja kapur barus. Dengan demikian, potensi hujan di area pencarian dapat diminimalisir. Ini krusial untuk kelancaran operasi udara dan darat, sehingga pencarian korban pesawat ATR dapat berjalan optimal.
Tantangan Medan dan Kolaborasi dalam Pencarian
Meskipun ada opsi Modifikasi Cuaca, tim SAR darat tetap bergerak aktif di medan yang sulit. Dari informasi yang ada, perjalanan menuju titik lokasi bisa memakan waktu hingga tiga jam karena kondisi geografis yang menantang. Ini menunjukkan dedikasi tinggi tim di lapangan.
Gubernur Andi Sudirman Sulaiman menyebutkan bahwa tim darat telah menemukan beberapa bukti petunjuk. Selain tim SAR gabungan, pelibatan masyarakat setempat juga sangat diberdayakan. Mereka membantu memberikan petunjuk jalur alternatif yang dapat mempercepat evakuasi.
Kepala Basarnas RI, Mohammad Syafii, sebelumnya juga telah mengemukakan pentingnya OMC. Ia melihat Modifikasi Cuaca sebagai salah satu cara efektif untuk membantu pencarian korban pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung. Kondisi cuaca ekstrem memang memerlukan solusi inovatif dan kolaborasi berbagai pihak.
Sumber: AntaraNews