FKUB Sulteng Tegaskan Kerukunan Umat Beragama Kunci Interaksi Sosial Harmonis
FKUB Sulteng menekankan bahwa Kerukunan Umat Beragama adalah fondasi utama interaksi sosial yang damai. Pahami mengapa toleransi sejati bukan pengorbanan keyakinan, melainkan pembangunan pemahaman moderasi beragama.
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah (Sulteng) menegaskan bahwa kerukunan merupakan fondasi utama dalam interaksi sosial. Pernyataan ini disampaikan untuk menyoroti pentingnya hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat yang majemuk.
Ketua FKUB Sulteng, Prof. Zainal Abidin, di Palu pada Sabtu (15/11), menjelaskan bahwa kerukunan sejati tidak menuntut pengorbanan keyakinan. Sebaliknya, hal ini berfokus pada penguatan moderasi beragama yang kokoh dan terbuka.
Toleransi yang sesungguhnya memungkinkan setiap pemeluk agama menjalankan ibadahnya tanpa rasa takut atau intervensi. Tujuannya adalah menciptakan ruang aman bagi seluruh elemen bangsa.
Moderasi Beragama sebagai Landasan Harmoni Sosial
Prof. Zainal Abidin menjelaskan bahwa moderasi beragama menjadi landasan utama untuk mewujudkan kehidupan sosial yang harmonis. Konsep ini mengajarkan umat beragama agar bersikap terbuka dan senantiasa mengedepankan akal sehat dalam setiap interaksi.
Beliau menekankan bahwa para penganut agama harus memiliki iman yang kokoh terhadap ajaran agamanya masing-masing. Namun, di sisi lain, mereka juga harus bersifat terbuka dalam menerima dan mengapresiasi perbedaan keyakinan penganut agama lain.
Sikap terbuka dan apresiatif ini, menurutnya, akan memungkinkan seluruh umat manusia, terlepas dari latar belakang keagamaannya, untuk hidup bersama dalam damai. Toleransi dan saling mendukung dalam kehidupan sosial sebagai sesama anak bangsa harus menjadi prioritas utama. "Toleransi dan saling mendukung dalam kehidupan sosial sebagai sesama anak bangsa harus menjadi prioritas. Kita harus berkolaborasi untuk kepentingan bersama di atas perbedaan-perbedaan," ucap Zainal yang juga Pakar Pemikir Islam Modern.
Peran FKUB Sulteng dan Momentum Hari Toleransi Internasional
FKUB Sulteng selama ini aktif mengampanyekan moderasi beragama di berbagai wilayah di Sulawesi Tengah. Upaya ini dilakukan melalui kerja sama erat dengan berbagai pihak, termasuk Satuan Tugas (Satgas) Madago Raya, Korem 132 Tadulako, Polda Sulteng, serta pemerintah daerah.
Salah satu kolaborasi terbaru yang dilakukan adalah dengan Pemerintah Kabupaten Donggala, yang berfokus pada penguatan moderasi beragama kepada masyarakat. Inisiatif ini menunjukkan komitmen FKUB dalam membumikan nilai-nilai kerukunan di tingkat akar rumput.
Prof. Zainal Abidin berharap Hari Toleransi Internasional, yang diperingati setiap 16 November, dapat menjadi momentum perekat persatuan. Momen ini penting untuk menuju masyarakat yang cinta damai dan saling menjaga satu sama lain, meskipun memiliki perbedaan keyakinan. "Oleh karena itu, Hari Toleransi Internasional yang diperingati pada 16 November perlu dijadikan sebagai momentum perekat persatuan menuju masyarakat yang cinta damai dan saling menjaga satu sama lain meski berbeda keyakinan," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dengan pemahaman moderasi beragama yang baik, kehidupan berdampingan secara damai, aman, dan rukun dapat terjamin bagi umat manusia. Ini adalah visi yang terus diperjuangkan oleh FKUB Sulteng demi stabilitas sosial. "Saya kira dengan pemahaman moderasi beragama yang baik, kita menjamin umat manusia bisa hidup berdampingan dengan damai, aman, dan rukun," kata dia.
Sumber: AntaraNews