Fakta Unik: China Tetap Lanjutkan Kerja Sama Energi dengan Rusia, Acuhkan Ancaman Trump yang Ingin Hentikan Pembelian Minyak
China tegaskan akan terus melanjutkan Kerja Sama Energi China Rusia, mengabaikan ancaman Presiden AS Donald Trump yang ingin Beijing berhenti membeli minyak dari Moskow.
Pemerintah China secara tegas menyatakan akan terus melanjutkan kerja sama energi China Rusia dan perdagangan. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berupaya menghentikan pembelian minyak Moskow oleh Beijing.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, di Beijing pada Kamis (17/10), menegaskan bahwa kerja sama energi China Rusia ini adalah sah dan sesuai hukum internasional. China menolak keras tindakan AS yang dianggap sebagai intimidasi sepihak dan pemaksaan ekonomi terhadap negara lain.
Sikap Beijing ini menggarisbawahi komitmennya terhadap kedaulatan ekonomi dan menentang intervensi asing. Hal ini juga menunjukkan bahwa China tidak akan gentar menghadapi tekanan dari Washington terkait hubungan dagangnya dengan Moskow.
Penolakan Tegas China atas Intimidasi Ekonomi AS
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa kerja sama energi China Rusia merupakan hal yang lazim. Menurutnya, hubungan dagang ini adalah sah dan sesuai hukum internasional, tidak dapat diganggu gugat oleh pihak mana pun.
Lin Jian secara eksplisit menyebut tindakan Amerika Serikat sebagai intimidasi sepihak dan pemaksaan ekonomi. "Kerja sama perdagangan dan energi China yang lazim dengan negara-negara lain, termasuk Rusia, adalah sah dan sesuai hukum," ujarnya.
Dia juga menambahkan bahwa langkah AS tersebut sangat mengganggu aturan ekonomi dan perdagangan internasional. Hal ini berpotensi mengancam keamanan serta stabilitas rantai industri dan pasokan global secara signifikan.
Beijing memandang posisi mereka terhadap krisis Ukraina bersifat objektif, adil, dan transparan. Oleh karena itu, China menentang keras upaya AS yang mengarahkan masalah ini kepada mereka dan menjatuhkan sanksi sepihak yang tidak sah terhadap kerja sama energi China Rusia.
Ancaman Trump dan Perbandingan dengan India
Ancaman Presiden AS Donald Trump muncul setelah ia mengklaim Perdana Menteri India Narendra Modi telah sepakat menghentikan pembelian minyak dari Rusia. Trump menyatakan akan fokus pada China agar Beijing "melakukan hal yang sama" seperti India.
Pernyataan Trump ini menyoroti upaya AS untuk membatasi pendapatan Rusia dari ekspor energi, yang dianggap mendanai perang di Ukraina. Namun, China menegaskan tidak akan mengikuti langkah tersebut, mempertahankan otonomi perdagangannya.
Minyak dan gas merupakan komoditas ekspor terbesar Rusia, dengan China, India, dan Turki menjadi pelanggan utamanya. Upaya AS untuk menekan negara-negara ini menunjukkan strategi Washington dalam mengisolasi ekonomi Moskow.
Sebelumnya, pemerintahan Trump telah mengenakan tarif 50 persen untuk barang-barang dari India sebagai hukuman. Tarif tersebut mulai berlaku pada bulan Agustus, termasuk penalti 25 persen untuk transaksi dengan Rusia.
Komitmen China dan Sanksi Global
Lin Jian menjelaskan bahwa jika hak dan kepentingan sah China dirugikan, Beijing akan mengambil tindakan balasan. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunannya dengan tegas.
China berkomitmen untuk mendorong perundingan perdamaian terkait krisis Ukraina, bukan dengan memutus hubungan ekonomi. "Pertukaran dan kerja sama biasa antara perusahaan China dan Rusia tidak boleh terganggu atau terpengaruh," tegas Lin Jian.
Selain AS, Inggris juga menjatuhkan sanksi kepada produsen minyak terbesar Rusia, dua perusahaan energi China, dan perusahaan penyulingan India, Nayara Energy Ltd. Sanksi ini menargetkan penanganan bahan bakar Rusia.
AS dan Eropa Barat terus memperketat tekanan pada sektor energi Rusia. Tujuannya adalah mengekang aliran uang dari penjualan minyak ke Rusia dan membatasi kemampuan Presiden Vladimir Putin dalam membiayai perang di Ukraina.
Sumber: AntaraNews