Evakuasi Pendaki Gunung Rinjani: Satu Patah Kaki, Satu Meninggal Dunia dalam Insiden Beruntun
Tim gabungan Balai TNGR kembali melakukan Evakuasi Pendaki Gunung Rinjani. Dua insiden terjadi beruntun, satu pendaki patah kaki, satu lainnya meninggal dunia, menyoroti pentingnya kehati-hatian.
Lombok Timur digegerkan dengan serangkaian insiden di Gunung Rinjani yang melibatkan para pendaki. Tim gabungan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) baru-baru ini melakukan dua operasi evakuasi besar dalam waktu berdekatan. Kejadian ini menyoroti risiko dan tantangan yang dihadapi para petualang di salah satu gunung paling ikonik di Indonesia.
Dua insiden terpisah terjadi, melibatkan seorang pendaki yang mengalami patah tulang kaki dan satu pendaki lainnya yang meninggal dunia. Evakuasi ini melibatkan koordinasi erat antara TNGR, kepolisian setempat, dan tim medis darurat. Situasi ini menjadi pengingat penting akan pentingnya persiapan matang dan kehati-hatian saat mendaki gunung.
Kapolsek Sembalun Polres Lombok Timur, Iptu Lalu Subadri, mengonfirmasi insiden terbaru yang menimpa seorang pendaki asal Riau. Sementara itu, Kepala Balai TNGR, Budy Kurniawan, sebelumnya juga telah mengumumkan evakuasi pendaki yang meninggal dunia. Kedua kejadian ini menambah daftar panjang peristiwa yang memerlukan respons cepat dari tim penyelamat di lapangan.
Evakuasi Pendaki Patah Kaki di Puncak Rinjani
Tim gabungan dari Balai TNGR, Polsek Sembalun, dan Edelweis Medical Help Center (EMHC) bergerak cepat untuk mengevakuasi seorang pendaki bernama Karimus. Pendaki asal Riau ini mengalami patah tulang kaki setelah terjatuh di sekitar puncak Gunung Rinjani. Insiden ini terjadi pada Jumat (15/5) dan memerlukan penanganan segera.
Menurut keterangan Iptu Lalu Subadri, korban dilaporkan terjatuh sedalam tujuh meter dari tempatnya beristirahat. Kecelakaan ini menyebabkan Karimus tidak dapat berjalan dan membutuhkan bantuan evakuasi. Posisinya saat itu sekitar 20-30 meter dari Pos Pelawangan, menambah kompleksitas operasi penyelamatan.
Meskipun mengalami cedera serius, kondisi Karimus dilaporkan stabil setelah mendapatkan penanganan awal di lokasi. Tim rescue telah memberikan logistik dan pertolongan pertama sebelum memulai proses evakuasi. Proses evakuasi korban patah tulang dari kawasan Pelawangan Sembalun menuju fasilitas medis terdekat masih terus diupayakan oleh tim gabungan.
Kronologi Meninggalnya Pendaki di Jalur Sembalun
Sebelum insiden patah kaki, petugas gabungan juga telah mengevakuasi seorang pendaki bernama Endang Subarna (48) asal Jawa Barat yang meninggal dunia. Peristiwa tragis ini terjadi pada Kamis (14/5) di kawasan Gunung Rinjani. Informasi mengenai kejadian ini segera ditindaklanjuti oleh Balai TNGR untuk memberikan pertolongan.
Budy Kurniawan menjelaskan bahwa korban bersama rombongan melakukan pendakian melalui pintu Kandang Sapi Sembalun. Mereka didampingi oleh porter dan tour organizer. Setelah tiba di Pos 4, rombongan beristirahat karena cuaca hujan, dengan dua pemandu yang mendampingi mereka. Hujan reda sekitar pukul 16.00 Wita, dan perjalanan dilanjutkan.
Namun, sekitar 15 menit setelah melanjutkan perjalanan, korban tiba-tiba membuka jas hujannya. Beberapa langkah kemudian, Endang menunduk dan terjatuh pingsan di jalur pendakian. Tim evakuasi, termasuk EMHC, segera berkoordinasi dan bergerak ke lokasi. Meskipun upaya penyelamatan dilakukan secara cepat, korban tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia.
Jenazah Endang Subarna kemudian dibawa turun oleh tim rescue menuju Puskesmas Sembalun. Selanjutnya, jenazah dirujuk ke RSUD Selong untuk penanganan lebih lanjut. Kejadian ini menjadi pengingat serius bagi semua pihak akan risiko yang melekat pada aktivitas pendakian gunung, terutama di medan yang menantang seperti Rinjani.
Pihak berwenang mengimbau kepada seluruh wisatawan yang melakukan pendakian untuk selalu berhati-hati dan mempersiapkan diri dengan baik. Kesiapan fisik, mental, dan perlengkapan yang memadai sangat krusial untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di jalur pendakian. Keselamatan pendaki adalah prioritas utama bagi pengelola taman nasional.
Sumber: AntaraNews