Dua Pendaki Singapura Ditemukan Meninggal Dunia Usai Erupsi Gunung Dukono
Tim SAR gabungan berhasil menemukan dua pendaki Gunung Dukono asal Singapura yang hilang pasca erupsi. Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat.
Ternate, Maluku Utara – Tim SAR gabungan pada Minggu (11/5/2026) berhasil menemukan dua pendaki asal Singapura yang sebelumnya dilaporkan hilang pasca erupsi Gunung Dukono. Penemuan ini mengakhiri pencarian intensif di tengah kondisi medan yang sulit dan ancaman aktivitas vulkanik yang masih berlangsung. Kedua jenazah ditemukan di wilayah Halmahera Utara, Maluku Utara, menambah duka atas bencana alam ini.
Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, menjelaskan bahwa kedua korban ditemukan pada pukul 13.00 Waktu Indonesia Timur (WIT). Lokasi penemuan berada di koordinat 1°42'9.90"N / 127°52'48.50"E. Titik ini berjarak sekitar 13 meter di sebelah utara dari lokasi sinyal darurat pertama kali terdeteksi oleh Pusat Komando Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
Sebelumnya, pada 8 Mei 2026, Pusat Komando Basarnas menerima informasi sinyal SOS darurat dari perangkat pesan satelit di area Gunung Dukono. Laporan tersebut kemudian dikonfirmasi oleh Kepala Desa Mamuya, yang menyatakan adanya beberapa pendaki terluka akibat erupsi. Pemerintah desa segera meminta bantuan SAR untuk melakukan evakuasi.
Detail Penemuan dan Kondisi Tragis Korban
Iwan Ramdani mengungkapkan bahwa kedua jenazah pendaki Singapura ditemukan dalam kondisi yang memilukan. Mereka ditemukan berdekatan, tertindih di bawah sebuah batu besar di lokasi yang sama. Kondisi ini menunjukkan betapa dahsyatnya dampak erupsi Gunung Dukono terhadap para pendaki yang terjebak di sana.
Penemuan ini menambah jumlah korban tewas akibat erupsi Gunung Dukono. Sehari sebelumnya, pada Sabtu (10/5/2026), tim SAR juga telah berhasil menemukan jenazah seorang pendaki berkebangsaan Indonesia. Ketiga korban ini menjadi saksi bisu keganasan alam yang tidak terduga di pegunungan tersebut.
Medan di sekitar kawah Gunung Dukono dikenal sangat berbahaya, terutama setelah erupsi. Tim SAR harus berjuang melewati jalur yang terjal dan tidak stabil, ditambah dengan ancaman material vulkanik. Kondisi ini membuat proses pencarian dan evakuasi menjadi sangat menantang dan berisiko tinggi bagi seluruh personel yang terlibat.
Kronologi Pencarian dan Evakuasi di Tengah Cuaca Buruk
Operasi pencarian dimulai setelah Kantor SAR Ternate menerima laporan sinyal darurat pada 8 Mei 2026. Sinyal SOS tersebut menjadi petunjuk awal bagi tim SAR untuk memfokuskan area pencarian. Tim gabungan segera dibentuk, melibatkan berbagai unsur dan personel terlatih untuk menghadapi medan ekstrem Gunung Dukono.
Proses evakuasi jenazah dari bibir kawah Gunung Dukono menuju posko utama di Desa Mamuya berlangsung dramatis. Kondisi hujan deras dan medan yang sangat berisiko tinggi menjadi hambatan utama bagi tim SAR. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat demi keselamatan tim dan keberhasilan misi evakuasi.
Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, tim SAR berhasil membawa kantong jenazah tiba di posko Desa Mamuya pada pukul 17.43 WIT. Setelah itu, para korban segera diangkut menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tobelo. Autopsi akan dilakukan untuk memastikan penyebab kematian dan proses identifikasi lebih lanjut.
Apresiasi dan Penutupan Operasi SAR
Iwan Ramdani menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh personel yang terlibat dalam operasi pencarian dan pertolongan ini. Ia menekankan bahwa dedikasi dan profesionalisme tim SAR patut diacungi jempol. Mereka telah menjalankan tugas dengan maksimal, meskipun dihadapkan pada cuaca buruk dan ancaman aktivitas vulkanik yang terus-menerus.
Dengan ditemukannya semua korban yang dilaporkan hilang, operasi SAR di Gunung Dukono secara resmi dinyatakan ditutup. Penutupan operasi ini menandai berakhirnya masa-masa penuh ketegangan dan harapan. Meskipun demikian, duka mendalam tetap menyelimuti keluarga korban dan seluruh pihak yang terlibat dalam tragedi ini.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan bahaya mendaki gunung berapi yang aktif. Pihak berwenang terus mengimbau masyarakat dan pendaki untuk selalu mematuhi peringatan dini dan larangan pendakian demi keselamatan. Mitigasi bencana dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko di daerah rawan bencana alam.
Sumber: AntaraNews