Ditanya soal Kultur Kekerasan Senior ke Junior, Begini Jawaban Jenderal Bintang Satu TNI
Mengacu kasus kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo karena dianiaya secara berulang-ulang dalam rentang waktu berbeda.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Inf Wahyu Yudhayana menegaskan, tidak ada kultur kekerasan dalam tubuh TNI.
Mengacu kasus kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo karena dianiaya secara berulang-ulang dalam rentang waktu berbeda.
Diketahui, Prada Lucky merupakan seorang prajurit TNI AD berusia 23 tahun bertugas di Batalyon TP 834 Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur dan diduga tewas dianiaya senior pada Rabu (6/8).
"Tidak (kultur kekerasan). Latihan pembinaan harus dengan keras, tetapi bukan dengan kekerasan," kata Wahyu kepada wartawan di Markas Besar TNI AD, Jakarta, Kamis (18/9).
Ia menjelaskan, yang dimaksud dengan keras yaitu seperti prajurit harus melakukan latihan pembinaan. Baik fisik, taktis maupun teknis.
"Dua jam? Dua jam. Tidak boleh dia mencuri-curi waktu. Kalau petunjuknya mengatakan tahapannya ini yang dilaksanakan, berikutnya tahapannya ini, itu semua harus dilaksanakan," tegasnya.
"Itu namanya latihan dengan keras. Tetapi tidak ada kita mentolerir kerasan," pungkasnya.
Prada Lucky Diduga Dianiaya Senior Berulang
Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Inf Wahyu Yudhayana mengatakan, kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo karena dianiaya secara berulang-ulang dalam rentang waktu berbeda.
Prada Lucky merupakan seorang prajurit TNI AD berusia 23 tahun bertugas di Batalyon TP 834 Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur dan diduga tewas dianiaya senior pada Rabu (6/8).
"Iya (berhari-hari), tapi kan tidak mungkin juga berhari-hari berturut-turut itu tidak. Karena kita ini kan juga menganut sistem pengawasan, pengendalian dari unsur pimpinan," kata Wahyu kepada wartawan di gedung Mabes TNI AD, Jakarta, Senin (11/8).
Menurut Wahyu, Prada Lucky diduga dianiaya berulang dengan rentang waktu berbeda-beda. "Itu kan ya, sangat tidak mungkin kalau itu berturut-turut, tapi mungkin pada rentang waktu jeda waktu nanti kita coba lihat dari hasil pemeriksaan," ujar Wahyu.