DDI Peringatkan Masyarakat, Waspadai Ajakan Jihad ke Negara-negara Konflik
Suaib menambahkan, mereka yang tergiur untuk berangkat ke Sudan atau wilayah lain yang menjadi target propaganda ISIS.
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Darud Dakwah wal Irsyad (PB DDI), Prof. Muh. Suaib Tahir, mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan jihad ke negara-negara yang tengah dilanda perang, seperti Sudan.
Suaib menjelaskan bahwa narasi jihad kerap dimanfaatkan kelompok tertentu dengan dalih "persatuan global". Tujuannya, kata dia, adalah untuk merekrut para relawan yang siap berperang demi memperkuat posisi ISIS di kawasan konflik.
Kelompok Seperti ISIS
Ia menegaskan, bagi kelompok seperti ISIS dan jaringan sejenis, semangat nasionalisme dianggap sebagai ancaman terhadap konsep “persaudaraan global” yang mereka usung.
"Hal yang demikian bagi mereka adalah kondisi yang tidak ideal. Harus disatukan lagi. Itulah yang mereka sebut sebagai ‘persaudaraan global’. Mereka menganggap, konflik yang terjadi di sana (Sudan), kita harus ikut bergabung ke sana untuk berperang,” kata seperti dikutip dari Antara, Selasa (4/11).
Tergiur Untuk Berangkat ke Sudan
Suaib menambahkan, mereka yang tergiur untuk berangkat ke Sudan atau wilayah lain yang menjadi target propaganda ISIS tidak akan menemukan gambaran “persatuan global” sebagaimana yang dijanjikan.
"Dalam praktiknya sendiri, persaudaraan global itu susah karena mereka (jaringan teror) masih memandang orang Asia itu sebagai bawahan. Dalam ISIS juga begitu, orang Indonesia tidak memegang posisi yang tinggi, paling hanya jadi kombatan-kombatan di bawah,"katanya.
Lebih jauh, Suaib mengingatkan pentingnya bagi generasi muda Indonesia untuk berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 sebagai fondasi menjaga keutuhan bangsa.
"Kita patut bersyukur karena punya gagasan tentang wawasan kebangsaan, berbeda dengan negara-negara lain yang tidak punya itu. Negara yang tidak memahami kebangsaannya dengan benar akan rentan untuk di utak-atik dan dipecah-belah. Tapi, kalau kita orang Indonesia, saya pikir tidak demikian,” ujarnya.