Dari Zulkifli Hasan hingga Titiek Soeharto, 5 Pejabat Negara Terima Gelar Adat Komering yang Sakral
Lima pejabat negara, termasuk Zulkifli Hasan dan Titiek Soeharto, baru saja menerima Gelar Adat Komering yang sakral di OKU Timur. Apa makna di balik penghormatan ini?
Lima pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Zulkifli Hasan dan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, baru saja menerima penghargaan istimewa. Mereka dianugerahi Gelar Adat Komering dalam sebuah prosesi sakral yang berlangsung di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 27 September, di sela-sela kegiatan panen raya jagung.
Pemberian gelar kehormatan ini merupakan inisiatif dari Lembaga Pembina Adat OKU Timur. Tradisi ini merefleksikan penghargaan mendalam terhadap para pemimpin yang dianggap membawa nilai kebersamaan serta kesejahteraan bagi masyarakat. Prosesi adat tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan juga bentuk doa dan restu dari masyarakat setempat.
Bupati OKU Timur, Lanosin Hamzah, menjelaskan bahwa momen ini menyatukan ketahanan pangan dengan kearifan tradisi lokal. Pengukuhan gelar adat Komering ini menegaskan posisi masyarakat adat sebagai bagian penting dari diplomasi budaya. Hal ini juga mempererat hubungan antara pemerintah daerah, pusat, dan seluruh elemen masyarakat.
Daftar Pejabat Penerima Gelar Adat Komering
Dalam prosesi yang penuh makna tersebut, lima tokoh penting negara menerima Gelar Adat Komering dengan sebutan yang berbeda-beda. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Zulkifli Hasan, dianugerahi gelar Suttan Penyimbang Alam, sebuah julukan yang mencerminkan perannya dalam menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan. Sementara itu, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Listiyo Sigit Prabowo, menerima gelar Raja Mangku Bhayangkara, yang mengindikasikan perannya sebagai pelindung keamanan.
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, mendapatkan gelar Ratu Mahkota Tulin Pujian Tebuayan, sebuah bentuk penghormatan atas kontribusinya. Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi, diangkat sebagai Raja Mangku Pangan Budiwa, menunjukkan perannya dalam ketahanan pangan. Terakhir, Direktur Utama Bulog RI, Letjend TNI Ahmad Rizal Ramdhani, menerima gelar Prabu Mangku Balai Pangan, yang juga berkaitan erat dengan pengelolaan pangan nasional.
Prosesi pemberian Gelar Adat Komering ini diawali dengan Niktikko Adok atau pengukuhan Adok/Jajuluk, yang merupakan tahap awal pengesahan gelar. Setelah itu, para pejabat mengenakan pakaian adat Komering yang khas, yaitu kepudang dan rumpak (songket kincungan). Ritual ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah manifestasi dari doa dan harapan masyarakat adat agar tugas serta karier para pejabat berjalan lancar dan sukses.
Makna dan Pentingnya Tradisi Adat Komering
Ritual pengukuhan Gelar Adat Komering ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat setempat. Bupati Lanosin Hamzah menegaskan bahwa selain bertujuan untuk melestarikan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun, prosesi ini juga memperkuat identitas budaya. Hal ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat berperan aktif dalam kehidupan modern dan pemerintahan.
Lebih jauh, pemberian gelar adat ini juga menegaskan posisi masyarakat adat sebagai bagian integral dari diplomasi budaya. Ini adalah jembatan yang menyatukan hubungan antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, tradisi ini berfungsi sebagai perekat sosial dan politik yang penting.
Kapolri Jenderal Listiyo Sigit Prabowo menyampaikan apresiasi tinggi atas sambutan hangat dari masyarakat Kabupaten OKU Timur. Beliau menyoroti bahwa daerah ini tidak hanya kaya akan adat dan budaya yang lestari, tetapi juga dikenal sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Provinsi Sumatera Selatan. Hal ini menunjukkan potensi besar OKU Timur dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
OKU Timur, Lumbung Pangan dan Ketahanan Nasional
Dalam kesempatan yang sama, Jenderal Listiyo Sigit Prabowo juga menyoroti capaian signifikan dalam panen raya jagung serentak yang berlangsung di OKU Timur. Menurutnya, hasil panen ini tidak bisa dipandang sebelah mata dan menunjukkan potensi besar daerah tersebut. Panen raya ini menjadi bukti nyata kontribusi OKU Timur terhadap ketahanan pangan nasional.
Secara nasional, panen raya jagung serentak yang dilaksanakan di seluruh Indonesia pada hari itu menghasilkan sekitar 7.153 ton jagung dari lahan seluas 1.788 hektare. Khusus di wilayah Sumatera Selatan, panen dilakukan di lahan seluas 52 hektare dengan total hasil mencapai 271 ton. Angka-angka ini menunjukkan skala produksi yang cukup besar.
Lebih spesifik lagi, Kabupaten OKU Timur sendiri menggelar panen raya jagung di atas lahan seluas 25 hektare. Lokasi panen berada di Desa Negeri Ratu, Kecamatan Bunga Mayang, dengan hasil yang sangat memuaskan, mencapai 150 ton jagung. Keberhasilan ini semakin memperkuat citra OKU Timur sebagai daerah strategis dalam mendukung ketersediaan pangan di Indonesia.
Sumber: AntaraNews