Cerita di Balik Job Fair: Kaum Difabel Ditolak Perusahaan Karena Bermodal Ijazah SLB
Sambil mengerutkan kening, Muhammad Husni tidak bisa menahan rasa kecewa dan kekesalannya saat melamar pekerjaan.
Sambil mengerutkan kening, Muhammad Husni tidak bisa menahan rasa kecewa dan kekesalannya saat melamar pekerjaan. Raut wajahnya penuh dengan rasa putus asa, kala mondar mandir ke semua stand perusahaan yang ada di jobfair.
Sudah empat tahun, Husni berjuang mencari pekerjaan. Berbekal ijazah SMA Luar Biasa (SLB), dia rutin mengirimkan lamaran berharap diterima perusahaan.
"Udah berkali-kali nyari kerja di mana aja, kayak di perusahaan kopi Jago itu juga menolak saya berkali-kali juga," ucap Husni di acara jobfair di GOR Tanjung Duren, Jakarta Barat, Rabu (4/6).
Namun, penolakan demi penolakan yang diterima Husni. Rasa kesal kian bercampur aduk dengan amarah, setelah kerap mendapat diskriminasi hanya karena keterbatasan dirinya.
"Orang HR-nya kayak diskriminasi disabilitas, makanya saya blak-blakan aja, kalau mau sama kayak di sini (jobfair), paling formalitas doang," kesal Husni.
"Ya pasti, 90% itu enggak bakal diterima," tambah dia.
Menurutnya, sistem rekrutmen di Indonesia masih tidak adil karena masih memandang sebelah mata penyandang disabilitas. Bukannya pasrah dengan keadaannya, tapi apa daya kalau HRD sudah mengatakan 'tunggu satu bulan lagi'.
"Padahal enggak keterima," ucapnya.
Satu-satunya upaya yang tidak henti-henti dilakukan pemuda itu hanya terus memanjatkan doa, berharap pemerintah bisa mendengar keluh kesahnya seraya bisa diterima bekerja di perusahaan yang menginginkan dirinya.
"Saya mah bidang hotel bisa, otomotif boleh, saya sih pengennya karir ke bidang otomotif. Kalau ritel udah ngalamin dah masuk, kalau pihak ritel masih mau nerima saya sih Alhamdulillah bersyukur," tutup Husni.