Bukan Cuma Protein: Depok Pastikan Keamanan Pangan Program MBG dengan 3 Pilar Kunci, ASUH Terjamin!
Pemerintah Kota Depok serius menjaga keamanan pangan Program MBG, memastikan produk asal hewan (PAH) ASUH. Bagaimana kolaborasi tiga pilar kunci menjamin kualitas gizi anak-anak di Depok?
Pemerintah Kota Depok, melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3), berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa pangan asal hewan (PAH) yang disajikan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memenuhi standar Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Komitmen ini ditegaskan sebagai upaya berkelanjutan untuk menjamin kualitas gizi anak-anak sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKP3 Kota Depok, Dede Zuraida, mengungkapkan bahwa pelaksanaan MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan protein, tetapi juga pada pemberdayaan UMKM lokal yang telah memenuhi standar mutu. Program ini didesain untuk memberikan dampak ganda, baik bagi kesehatan generasi muda maupun pertumbuhan ekonomi di Depok.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Program MBG melibatkan tiga peran penting yang saling berkoordinasi, yaitu koordinator, penanggung jawab vendor penyedia makanan, dan penjamah makanan. Setiap peran memiliki tanggung jawab spesifik untuk memastikan seluruh proses, mulai dari pengadaan bahan baku hingga penyajian, berjalan sesuai prosedur dan higienis.
Tiga Pilar Utama Penjamin Keamanan Pangan MBG
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Depok didukung oleh tiga pilar utama yang memiliki peran krusial dalam menjaga keamanan pangan. Koordinator bertugas memastikan bahwa semua pangan asal hewan (PAH) yang dibeli telah memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV) dan surat keterangan sehat, menjamin legalitas dan kualitas bahan baku.
Sementara itu, penanggung jawab (PIC) vendor dan penjamah makanan memegang peran vital dalam proses penyimpanan dan pengolahan. Mereka harus memastikan bahwa seluruh tahapan dilakukan secara higienis, mengikuti daftar periksa harian yang telah ditetapkan untuk mencegah kontaminasi.
DKP3 Kota Depok juga meminta pengelola MBG di sekolah-sekolah untuk aktif mengawasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pengawasan ini bertujuan untuk memastikan SPPG secara konsisten menggunakan bahan baku berkualitas tinggi dan mendistribusikan makanan sesuai ketentuan suhu serta waktu penyajian yang tepat.
Secara keseluruhan, DKP3 Kota Depok melalui Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan terus melakukan pengawasan Kesmavet, fasilitasi serta pembinaan sertifikasi NKV, pengawasan lalu lintas produk asal hewan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta koordinasi lintas instansi dalam menjaga keamanan pangan.
Suhu dan Higiene Kunci Distribusi Pangan
Aspek penanganan dan distribusi pangan yang telah dimasak memerlukan perhatian serius agar makanan tetap aman hingga dikonsumsi oleh peserta didik. Dosen IPB University, Denny Widaya Lukman, menekankan pentingnya menjaga suhu dan kebersihan selama proses ini.
Denny menjelaskan bahwa makanan panas yang baru dimasak sebaiknya segera dimasukkan ke dalam wadah penyajian. "Penutup dapat digunakan ketika suhu makanan berada pada kisaran 50–55 derajat Celsius. Jangan biarkan makanan berada pada suhu ruang lebih dari empat jam," jelasnya.
Selain itu, kualitas makanan harus dijaga hingga ke titik penyajian di sekolah. "Baki makanan harus ditempatkan di atas meja, bukan di atas tanah atau lantai, agar terjaga kebersihannya," ucap Denny, menyoroti pentingnya lingkungan penyajian yang bersih.
Pedoman ini bertujuan untuk meminimalkan risiko pertumbuhan bakteri dan memastikan makanan tetap layak konsumsi. Kepatuhan terhadap standar higiene dan suhu merupakan kunci utama dalam menjamin keamanan pangan Program MBG.
Kolaborasi dan Data sebagai Fondasi Keamanan
Keberhasilan Program MBG sangat bergantung pada kolaborasi yang kuat antar berbagai pihak. Denny Widaya Lukman menegaskan pentingnya membangun kolaborasi dengan transparansi informasi, tanggung jawab bersama, peningkatan kapasitas berkelanjutan, serta evaluasi berbasis data.
Menurutnya, keamanan pangan adalah tanggung jawab kolektif. "Keamanan pangan bukan hanya menjadi tugas pengawas, tetapi seluruh tim. Keputusan yang diambil harus berdasarkan data, bukan asumsi," katanya, menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti.
Denny juga menjelaskan bahwa peran manajer, pengawas, dan penjamah makanan saling berkaitan dalam menjamin keamanan pangan. Manajer menyusun SOP dan menyiapkan pelatihan, pengawas melakukan pemantauan dan inspeksi, sementara penjamah menjalankan praktik higiene, menjaga alat tetap bersih, dan melaporkan bila menemukan kondisi yang tidak aman.
Dengan koordinasi dan pelaksanaan yang baik, diharapkan Program MBG dapat berjalan optimal serta mampu memastikan pemenuhan gizi anak di Kota Depok melalui penyediaan pangan asal hewan yang aman dan berkualitas.
Sumber: AntaraNews