BPBD Semarang Data 556 KK Terdampak Banjir Semarang di Tugu dan Ngaliyan
Ratusan keluarga di tiga kecamatan Kota Semarang terdampak banjir Semarang yang terjadi Jumat malam. BPBD Kota Semarang dan pemerintah daerah bergerak cepat menyalurkan bantuan serta melakukan penanganan untuk pemulihan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat setidaknya 556 kepala keluarga (KK) atau lebih dari 1.858 jiwa menjadi korban banjir yang melanda wilayah Tugu, Ngaliyan, dan Semarang Barat pada Jumat (15/5) malam. Bencana ini dipicu oleh intensitas curah hujan yang sangat tinggi, menyebabkan debit air sungai meluap dan tidak tertampung.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P. Martantono, menjelaskan bahwa dampak banjir ini terasa luas di permukiman warga pada tiga kecamatan tersebut. Petugas gabungan telah dikerahkan untuk melakukan penanganan cepat di lokasi terdampak, memastikan keselamatan warga dan mendata kerugian yang terjadi.
Pemerintah Kota Semarang, melalui Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti, telah memastikan penyaluran bantuan sosial berupa kebutuhan dasar dan logistik bagi para korban. Langkah tanggap darurat ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan esensial warga selama masa pemulihan, sekaligus mempercepat proses normalisasi kondisi pasca-banjir.
Dampak Luas Banjir di Tiga Kecamatan Semarang
Banjir yang melanda Kota Semarang pada Jumat malam menyisakan dampak signifikan di beberapa wilayah. Di Kecamatan Tugu, Kelurahan Mangkang Kulon menjadi salah satu area terdampak paling parah, dengan 313 KK atau sekitar 1.252 orang mengalami kerugian akibat genangan air. Insiden tragis juga terjadi di Mangkang Kulon, di mana satu orang bernama Maryam (70) dilaporkan hanyut dan masih dalam proses pencarian.
Sementara itu, di Kecamatan Ngaliyan, dua kelurahan turut merasakan dampak banjir. Kelurahan Purwoyoso mencatat 146 KK atau lebih dari 273 orang terdampak, sedangkan Kelurahan Bambankerep melaporkan 16 KK atau 49 jiwa terkena imbas. Genangan air yang tinggi menyebabkan aktivitas warga terganggu dan memaksa beberapa di antaranya untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Kecamatan Semarang Barat juga tidak luput dari terjangan banjir, dengan empat kelurahan yang terdampak. Kelurahan Kalibanteng Kidul mencatat 22 KK atau 60 jiwa, dan Kelurahan Kembangarum melaporkan 59 KK atau 224 jiwa terdampak, termasuk korban patah tulang bernama Wahyu Adi Kristanto. Selain itu, banjir juga menggenangi 25 rumah di Jalan Jembawa RT 06/RW 01 Kelurahan Kalibanteng Kulon, serta beberapa RT di Kelurahan Krapyak, yaitu RT 01, RT 02, RW 03, dan RW 09.
Penanganan Cepat dan Bantuan Logistik bagi Korban Banjir Semarang
Pemerintah Kota Semarang bersama BPBD dan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, serta personel gabungan, langsung bergerak cepat melakukan penanganan di sejumlah titik terdampak banjir. Upaya pembersihan material lumpur sisa banjir, normalisasi saluran air, dan penyedotan genangan dilakukan secara intensif. Pendataan warga terdampak juga terus dilakukan untuk memastikan semua kebutuhan terpenuhi.
Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan komitmen pemerintah dalam membantu korban banjir. "Bantuan tersebut disiapkan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat berlangsung," ujarnya di Semarang. Bantuan sosial berupa kebutuhan dasar dan logistik telah disalurkan kepada warga yang membutuhkan.
Bantuan yang telah didistribusikan meliputi 60 paket makanan siap saji, 140 paket lauk pauk siap saji, 25 lembar kasur, 10 lembar tenda gulung, 10 paket family kit, serta 8 paket perlengkapan anak (kids ware). Penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari upaya komprehensif pemerintah untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-bencana.
Upaya Pemulihan dan Antisipasi Dampak Banjir Semarang
Kondisi banjir di sejumlah wilayah terdampak di Kota Semarang saat ini sudah berangsur surut, memungkinkan dilakukannya pembersihan material lumpur sisa banjir secara menyeluruh. Tim gabungan terus bekerja keras untuk membersihkan lingkungan dan memastikan tidak ada lagi genangan yang menghambat aktivitas warga. Fokus utama adalah mengembalikan kondisi lingkungan seperti semula secepat mungkin.
Selain pembersihan, upaya normalisasi saluran air juga menjadi prioritas untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Pemerintah Kota Semarang menekankan pentingnya koordinasi antar-OPD dan personel gabungan dalam setiap tahapan penanganan bencana. Hal ini memastikan bahwa respons terhadap bencana dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
Pendataan warga terdampak dan penyaluran bantuan logistik akan terus berlanjut hingga seluruh kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dan kondisi kembali normal. Pemerintah berharap dengan langkah-langkah ini, masyarakat dapat segera pulih dari dampak banjir dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari tanpa hambatan signifikan.
Sumber: AntaraNews