BKSDA Sumbar Kerahkan Drone Termal Pencari Korban Banjir Bandang Agam
BKSDA Sumatera Barat mengerahkan drone termal untuk membantu pencarian korban banjir bandang di Agam. Teknologi canggih ini diharapkan mempercepat penemuan korban yang hilang.
Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat telah mengerahkan drone termal canggih untuk membantu operasi pencarian korban banjir bandang di Salareh Aia, Kabupaten Agam. Teknologi ini menjadi harapan baru dalam upaya menemukan puluhan warga yang masih dinyatakan hilang pasca-bencana alam tersebut. Tim gabungan terus bekerja keras di lapangan.
Kepala Resort Konservasi Maninjau II BKSDA Sumatera Barat, Ade Putra, menyatakan bahwa drone termal ini sangat efektif. Alat tersebut dikerahkan khusus untuk melacak keberadaan korban yang belum ditemukan. Ini adalah bagian dari dukungan BKSDA terhadap tim SAR gabungan.
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat telah menyebabkan banyak korban jiwa. Hingga Sabtu, 85 orang masih dilaporkan hilang di berbagai lokasi terdampak. Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak.
Teknologi Drone Termal dalam Misi SAR
Drone termal yang digunakan BKSDA Sumatera Barat memiliki kemampuan unik untuk mendeteksi panas tubuh. Teknologi ini memungkinkan tim pencari untuk mengidentifikasi potensi keberadaan korban di area yang sulit dijangkau. Kemampuan ini sangat krusial dalam kondisi pasca-bencana.
Ade Putra menjelaskan bahwa setelah mendeteksi tanda panas, drone dapat diturunkan lebih dekat. "Kami akan segera melaporkan ke Basarnas jika kami menemukan korban, untuk konfirmasi identitas," ujarnya. Drone ini biasanya digunakan untuk memantau harimau sumatera.
Efektivitas drone termal ini sangat terasa terutama saat malam hari. Layar drone akan menampilkan warna kemerahan atau kekuningan jika ada deteksi panas tubuh. Namun, pada siang hari, tim harus mengandalkan drone reguler karena kesulitan deteksi.
Tim membawa dua jenis drone untuk memaksimalkan upaya pencarian korban banjir bandang. Penggunaan drone termal di malam hari menjadi fokus utama. Ini menunjukkan adaptasi strategi pencarian yang lebih efektif.
Skala Bencana dan Upaya Pencarian Berlanjut
BKSDA tidak bekerja sendiri dalam misi pencarian ini. Sebuah tim telah dikerahkan ke lokasi bersama Pagari (Patroli Siaga Desa) Salareh Aia. Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Riau juga turut serta membantu.
Ade Putra menambahkan bahwa pihaknya berencana mendirikan posko di lokasi untuk mendukung pencarian. "Saat ini, sekitar 78 orang dilaporkan hilang di Salareh Aia," katanya. Ini menunjukkan skala kehilangan yang signifikan akibat bencana.
Hingga Sabtu, pemerintah provinsi Sumatera Barat masih terus mencari 85 korban banjir dan tanah longsor yang belum ditemukan. Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Arry Yuswandi, mengonfirmasi data tersebut. "Per Sabtu siang, 88 orang meninggal dunia dan 85 masih hilang," jelasnya.
Dari 16 kabupaten/kota yang terdampak, enam di antaranya melaporkan adanya korban jiwa atau orang hilang. Kabupaten Agam mencatat jumlah korban tertinggi dengan 74 kematian dan 78 orang masih hilang. Kota Padang Panjang melaporkan tujuh kematian, Kota Padang lima, sementara Pasaman Barat dan Kota Solok masing-masing satu kematian.
Sumber: AntaraNews