Banjir Serdang Bedagai Meluas, Belasan Ribu KK Terdampak dan Mengungsi
Banjir Serdang Bedagai semakin parah, menyebabkan 16.987 KK di 11 kecamatan terdampak. Curah hujan tinggi dan tanggul jebol picu bencana, warga terpaksa mengungsi.
Banjir besar kembali melanda Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, mengakibatkan dampak serius bagi ribuan keluarga. Sedikitnya 16.987 Kepala Keluarga (KK) di 11 kecamatan kini harus menghadapi genangan air yang tinggi. Peristiwa ini terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir.
Menurut data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Serdang Bedagai, bencana ini diperparah oleh banjir kiriman dari daerah hulu. Kondisi ini menyebabkan dua tanggul penting di Sei Belutu dan Sungai Senangkong jebol. Akibatnya, air meluap dengan cepat dan merendam permukiman warga.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Serdang Bedagai, Abdurrahman Purba, menyatakan pihaknya terus memantau situasi di lapangan. Pemerintah daerah berupaya keras memberikan bantuan serta mendata kebutuhan para korban. Banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu.
Skala Dampak Banjir Serdang Bedagai yang Meluas
Dampak banjir Serdang Bedagai kali ini terasa sangat luas, mencakup hampir seluruh wilayah kabupaten. Data BPBD menunjukkan bahwa 11 kecamatan tidak luput dari terjangan air bah. Kecamatan Tanjung Beringin menjadi yang paling parah dengan 5.330 KK terdampak, diikuti oleh Sei Rampah dengan 4.804 KK.
Selain dua kecamatan tersebut, beberapa wilayah lain juga mengalami dampak signifikan. Di antaranya adalah Bandar Khalifah dengan 1.841 KK dan Perbaungan dengan 1.497 KK. Bahkan kecamatan seperti Dolok Masihul dan Tebing Syahbandar turut merasakan imbas dari bencana alam ini.
Total keseluruhan warga yang terdampak mencapai angka yang mengkhawatirkan, yakni 16.987 KK. Angka ini mencerminkan betapa parahnya situasi yang dihadapi oleh masyarakat Serdang Bedagai. Upaya penanganan dan penyaluran bantuan terus diintensifkan di berbagai titik.
Penyebab dan Kondisi Terkini Banjir Serdang Bedagai
Penyebab utama banjir Serdang Bedagai dijelaskan oleh BPBD sebagai kombinasi dari beberapa faktor. Curah hujan yang sangat tinggi selama lima hari terakhir menjadi pemicu awal genangan air. Kondisi ini diperparah oleh adanya air kiriman dari daerah hulu sungai.
Tidak hanya itu, tekanan air yang besar menyebabkan dua tanggul penting di Sei Belutu dan Sungai Senangkong jebol. Kejadian ini mempercepat laju air dan memperluas area terdampak banjir. Plt Kepala BPBD Serdang Bedagai, Abdurrahman Purba, menyatakan bahwa "Kondisi air saat ini mulai surut, kami semua berharap kondisi ini akan cepat berlalu."
Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai terus melakukan pemantauan intensif di lapangan. Mereka juga aktif mendata kerugian serta menyalurkan bantuan kepada para korban. Diharapkan dengan surutnya air, aktivitas warga dapat kembali normal secara bertahap.
Kesaksian Korban dan Perbandingan dengan Banjir Sebelumnya
Salah satu korban banjir Serdang Bedagai, Bambang (43), menceritakan pengalaman pahitnya. Ia terpaksa mengungsi ke mushala di SMK N 1 Seirampah bersama puluhan warga lainnya. Rumahnya hampir tenggelam, sehingga tidak memungkinkan untuk bertahan di dalam.
Bambang mengungkapkan, "Saya sudah empat malam tidur di mushala yang dijadikan posko pengungsian, di tempat kami sudah tidak ada lagi daratan, yang tersisa hanya pelantaran mushala ini, itupun air mulai naik ke lantai." Kondisi ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan tempat berlindung yang aman.
Korban lainnya, Saleh (45), juga merasakan keparahan banjir Serdang Bedagai kali ini. Ia menyebutkan bahwa banjir ini jauh lebih parah dibandingkan dengan peristiwa serupa pada tahun 2021. "Ini banjir terparah, sebelumnya tahun 2021 juga banjir, namun kali ini lebih parah lagi. Sekarang kami tidak bisa beraktivitas, hanya mampu menunggu air surut," ujarnya. Kesaksian ini menggarisbawahi urgensi penanganan bencana yang lebih komprehensif.
Sumber: AntaraNews