Banjir Jember Terjang 17 Desa, Ribuan KK Terdampak dan Jembatan Putus
Hujan deras memicu Banjir Jember yang menerjang 17 desa di delapan kecamatan, menyebabkan ribuan kepala keluarga terdampak dan sejumlah infrastruktur rusak.
Banjir Jember melanda 17 desa yang tersebar di delapan kecamatan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyusul hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Peristiwa ini terjadi sejak Kamis (12/2) sore hingga Jumat dini hari, mengakibatkan dampak signifikan bagi masyarakat setempat. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, Edi Budi Susilo, mengonfirmasi bahwa ribuan kepala keluarga (KK) terdampak bencana ini.
Setidaknya 3.944 kepala keluarga di Jember harus menghadapi dampak langsung dari banjir yang disebabkan oleh intensitas hujan tinggi. Kondisi ini memicu peningkatan debit air di sejumlah sungai vital di Jember, termasuk Sungai Dinoyo, Sungai Kaliputih, Sungai Kaliklepuh, Kalijompo, Sungai Rembangan, Sungai Bedadung, Sungai Karangbayat, dan Sungai Gondangdia. Luapan air sungai kemudian menggenangi permukiman warga serta fasilitas umum lainnya.
Bencana alam ini tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur penting di beberapa titik. BPBD Jember kini tengah berupaya keras untuk melakukan penanganan dan evakuasi. Situasi terkini menunjukkan adanya beberapa titik pengungsian yang telah disiapkan.
Dampak Meluas dan Kerusakan Infrastruktur Akibat Banjir Jember
Banjir Jember yang terjadi kali ini mencakup wilayah yang cukup luas, meliputi Kecamatan Panti, Sukorambi, Rambipuji, Kalisat, Kaliwates, Bangsalsari, Ajung, dan Balung. Total sebanyak 3.944 KK di delapan kecamatan tersebut merasakan langsung dampak genangan air. Tinggi genangan bervariasi, mulai dari 30 centimeter hingga mencapai dua meter di beberapa lokasi.
Selain merendam permukiman, banjir juga mengganggu akses jalan dan merobohkan infrastruktur penting. Tiga jembatan dilaporkan rusak parah, salah satunya di Desa Suci, Kecamatan Panti, yang putus akibat terjangan banjir bandang. Kondisi ini tentu saja menghambat mobilitas warga dan aktivitas sehari-hari.
Satu pondok pesantren juga menjadi korban dampak Banjir Jember, menambah daftar fasilitas umum yang terganggu. Luapan air yang deras pada Kamis malam pukul 19.00 WIB menyebabkan kemacetan lalu lintas di beberapa ruas jalan. Peningkatan debit air di delapan sungai utama di Jember menjadi pemicu utama meluapnya air.
Respons Cepat BPBD Jember dan Titik Pengungsian
Kecamatan Rambipuji menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah, di mana ketinggian air mencapai lebih dari satu meter. Akibatnya, ratusan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Total 299 jiwa telah dievakuasi dan ditempatkan di beberapa lokasi pengungsian sementara.
Beberapa titik pengungsian yang menampung warga terdampak Banjir Jember antara lain rumah Ustaz Nurul di Dusun Krajan dengan 60 jiwa, rumah Umar Garuda Kidul Pasar menampung 75 jiwa, dan Masjid Nurul Iman di Curah Ancar dengan 150 jiwa. Balai Desa Rambipuji juga menjadi lokasi pengungsian bagi 14 jiwa lainnya.
BPBD Jember terus bergerak cepat dalam melakukan penanganan pasca-bencana. Tim BPBD fokus pada pembersihan luapan banjir di Kampung Ledok Jember Kidul, serta penanganan di Kecamatan Kaliwates. Upaya evakuasi warga dan distribusi bantuan logistik untuk dapur mandiri di Kecamatan Rambipuji juga menjadi prioritas utama.
Penanganan di Kecamatan Ajung juga terus dilakukan oleh BPBD Jember. Edi Budi Susilo menyatakan bahwa rekomendasi penanganan lebih lanjut telah diteruskan kepada perangkat daerah terkait untuk koordinasi yang lebih efektif. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga dan memulihkan kondisi pasca-banjir.
Sumber: AntaraNews