Amankan Aksi Demo Hari Tani, Kapolda Metro: Tidak Ada Lagi Main Tembak-Tembak Gas Air Mata
Aksi unjuk rasa digelar dalam rangka memperingati Hari Tani ke-65.
Sebanyak 9.498 personil gabungan dikerahkan untuk mengawal aksi unjuk rasa di kawasan DPR/MPR Jakarta Pusat pada Rabu (24/9). Aksi unjuk rasa digelar dalam rangka memperingati Hari Tani ke-65.
Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Asep Suheri, melarang anggota yang bertugas bertindak sendiri tanpa komando. Selain itu, anggota juga dilarang membawa senjata api.
Hal itu disampaikan Irjen Asep saat memimpin langsung apel gelar pasukan di Gedung DPR/MPR, Jakarta Pusat pada Rabu (24/9).
"Laksanakan pemeriksaan kelengkapan Alut dan Alsus anggota. Ya untuk para padal laksanakan pemeriksaan kepada para pasukannya dilakukan dengan ketat, ya. Divideokan, dokumentasikan oleh provos, terutama para danton, maupun anggota reskrim, tidak ada yang menggunakan senjata api. Saya ulangi, tidak ada yang menggunakan senjata api. Jelas, ya? Jelas," ujar Irjen Asep.
Lebih lanjut, Irjen Asep menyampaikan penggunaan gas air mata hanya diperbolehkan sesuai SOP dan atas izin langsung Kapolda. Semua tindakan di lapangan harus dikomunikasikan melalui rantai komando, mulai dari padal, danton, hingga perwira menengah.
"Pergerakan Pasukan PHH mau penggunaan gas air mata hanya boleh dilakukan atas perintah saya, perintah Kapolda. Tidak ada lagi main tembak-tembak sendiri," ucap dia.
Irjen Asep mengingatkan disiplin satu komando adalah kunci untuk menjaga ketertiban dan menghindari insiden yang tidak diinginkan. Personel juga diwajibkan melaporkan setiap perkembangan secara cepat agar situasi tetap terkendali.
"Semua tindakan di lapangan harus satu komando. Tidak boleh ada inisiatif sendiri tanpa instruksi dari pimpinannya. Para padal hingga pamen wajib memastikan rantai komando berjalan dan jangan sampai terjadi miskomunikasi," ujar dia.
Lebih lanjut, Irjen Asep juga mengingatkan perwira pengendali untuk mengedepankan langkah persuasif.
Anggota yang bertugas menghadapi massa jangan bersikap agresif dan tetap menjaga posisi bertahan dengan mengedepankan cara yang humanis serta memberikan ruang bicara kepada perwakilan masa agar situasi di lapangan dapat diatur dan dikelola dengan baik.
"Para padal harus mendepankan tindakan persuasif. Tidak ada penggunaan senjata api dalam bentuk apapun. Ini dua kali saya sampaikan. Tidak ada penggunaan senjata api dalam bentuk apapun," ujar dia.
"Pegang teguh prinsip jaga Jakarta khususnya terkait perlindungan kita terhadap masyarakat. Keselamatan warga adalah prioritas utama baik peserta aksi maupun masyarakat sekitar termasuk para personil yang bertugas," katanya.