Terganggu Ledakan Kucing Liar
Kucing dikenal sebagai hewan yang mudah berkembang biak. Namun, di beberapa wilayah perkotaan, kemampuan berkembang biak yang cepat ini menimbulkan masalalah.
Dari balik pagar, Riska misuh-misuh melihat kotoran kucing bertebaran di teras rumah. Posisi kotoran kucing biasanya berada lokasi yang sama, di bawah motor atau dekat jemuran.
Bau yang ditinggalkan sangat menyengat. Riska jengkel bukan main. Kotoran itu disiramnya pakai selang air sambil mengeluh saban hari banyak kucing keluar masuk rumah.
Tidak cuma kotoran, Riska mengaku hampir setiap pagi menemukan jok motor suaminya basah dikencingi kucing. Alhasil, sang suami rajin ganti jok motor lantaran sering bolong dicakar kucing liar.
Masalah yang ditimbulkan kucing itu terjadi karena rumah Riska menjadi tempat kumpul kucing-kucing liar tak bertuan. Saat malam hari, sekitar 2 sampai 3 kucing berkumpul dan tidur di teras rumah Riska. Biasanya di jok motor atau keset rumah.
"Hampir setiap hari saya bersihkan kotoran dan kencing kucing di motor. Mengganggu banget kucing-kucing liar itu," kata Riska saat bercerita kepada merdeka.com, Rabu (19/6).
Keberadaan kucing liar di lingkungan rumah Riska cukup membeludak. Ada saja kucing mati di depan rumah karena terlindas motor atau mobil. Bila ada kucing mati, Riska dan tetangga yang kena getahnya. Dia harus segera membuang atau menguburkan kucing agar tidak menimbulkan bau bangkai.
Suatu Waktu, Riska mencium bau busuk ketika sedang menjemur bayinya. Riska mencari sumber bau tak sedap itu. Setelah dicari, ternyata dia menemukan bangkai kucing yang tersembunyi di bawah mobil tetangga.
Banyaknya kucing liar di Kramat Jati, Jakarta Timur menjadi bahan pergunjingan Riska dan tetangga. Mereka menyoroti aksi seorang warga pecinta kucing suka memberikan makan kucing pada malam hari.
Riska pernah memergoki orang tersebut menebar makanan kucing kiloan beralas kertas di pinggir jalan dan depan rumah warga. Aksi seseorang itu mengundang banyak kucing liar berkumpul di sekitar rumah Riska.
"Kucing liar jadi banyak kumpul di sekitar sini karena ada orang tidak dikenal ngasih makan kucing. Dia biasanya beri makan kucing liar malam-malam. Warga sini jelas risih karena undang kucing liar," ujar Riska.
Ledakan Populasi Kucing di Jakarta
Kucing dikenal sebagai hewan yang mudah berkembang biak. Namun, di beberapa wilayah perkotaan, kemampuan berkembang biak yang cepat ini justru menimbulkan masalah baru yakni overpopulasi kucing liar.
Berdasarkan data Dinas Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta diperkirakan jumlah kucing liar yang ada di wilayah kota mencapai 860.000 ekor kucing.
Jika data tersebut diekstrapolasi, secara keseluruhan jumlah kucing liar yang ada di wilayah ibu kota ini mencapai lebih dari 1,5 juta ekor. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat karena kucing-kucing liar ini secara cepat bereproduksi dan menghasilkan anak dalam jumlah yang besar.
Guru Besar IPB University, Prof Ronny Rachman Noor mengulas penyebab ledakan populasi kucing ini. Ronny menyatakan, ledakan populasi kucing liar tak boleh dianggap sepele karena akan berdampak pada masalah kesehatan yang serius.
“Kucing merupakan salah satu hewan peliharaan yang menggemaskan dan menyenangkan. Namun, jika populasinya tidak terkendali dapat menjadi masalah kesehatan yang nyata bagi penduduk Jakarta,” tegas Ronny dikutip dari dikutip website IPB University, Kamis (19/6).
Satu siklus reproduksi kucing domestik dapat menghasilkan lebih dari tiga anak setiap kelahiran. Dalam setahun, kucing dapat mengalami 3-4 kali melahirkan.
“Karena itu, kita dapat memahami jika reproduksi kucing kucing liar akan lebih sulit lagi dikendalikan, sehingga dengan perkiraan jumlah kucing yang ada maka masalah kucing liar ini akan menjadi bom waktu,” terangnya.
Fenomena ledakan kucing liar terlihat juga ditemukan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Banyaknya kucing liar yang berkeliaran di jalanan membuat sebagian warga merasa resah dan terganggu, terutama karena dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Salah satu warga yang merasakan dampaknya adalah Rizky, penghuni kos yang tinggal tak jauh dari pasar. Dia mengeluhkan meningkatnya jumlah kucing liar di lingkungan tempat tinggalnya.
"Iya, karena di daerah rumah saya di Pasar Minggu banyaknya kucing liar mulai menyebabkan kebisingan suara saat mereka bertengkar atau saat musim kawin. Belum lagi saat mereka mencari makan dengan mencari sisa-sisa makanan di sampah, membuat sekitar lingkungan menjadi kotor dan berantakan," kata Rizky.
Rizky pada dasarnya bukanlah pembenci hewan, apalagi kucing. Namun, dia merasa keberadaan kucing liar semakin banyak menimbulkan ketidaknyamanan, terutama masalah kebersihan lingkungan.
"Tidak secara signifikan mengganggu, namun beberapa kali membuat penghuni sekitar harus bekerja ekstra untuk membersihkan kotoran atau bau pipis mereka yang menyengat," jelasnya.
Dia menduga meningkatnya populasi kucing liar di wilayah tempat tinggalnya berkaitan dengan lokasi yang dekat dengan pasar. Banyak pemilik kucing yang tidak bertanggung jawab membuang hewan peliharaannya dengan alasan kucing bisa mencari makanan sendiri di sekitar sentra pasar tersebut.
"Mungkin karena daerah saya dekat pasar dan banyak sentra penjual makanan, hal ini membuat para pemilik kucing membuang sembarangan di daerah tersebut. Populasinya jadi meledak karena tidak ada yang mengurusnya," terang dia.
Menurutnya, salah satu gangguan paling mengesalkan adalah bau pesing dari pipis kucing yang seringkali mengenai barang-barang milik penghuni kos, terutama sepatu atau pakaian yang diletakkan di luar kamar.
"Yang membuat saya risih itu sebenarnya adalah pipis mereka yang sembarangan. Hal ini kan membuat aroma di sekitar menjadi tidak sedap dan harus ekstra untuk membersihkan. Padahal jelas-jelas itu bukan tanggung jawab saya karena saya tidak memiliki kucing untuk dipelihara," ujar Rizky.
Wanita 27 tahun ini mengaku pernah mengalami kejadian yang membuatnya sangat jengkel. Sepulang kerja dalam kondisi lelah, dia harus mencuci sepatunya karena terkena pipis kucing. Sejak saat itu, ia merasa trauma dan tidak lagi berani menaruh sepatu di luar kamar.
"Mulai saat itu saya trauma untuk meletakkan sepatu ataupun barang lainnya di depan kamar kos. Saya lebih memilih memasukkan sepatu ke dalam kamar agar tidak kejadian lagi," ujarnya.
Selain bau dan kotoran, kucing-kucing liar itu seringkali merusak tanaman, menjatuhkan tempat sampah, dan meninggalkan bulu di motor yang kemudian menempel di pakaian.
"Beberapa kali area depan kos jadi sangat bau. Bulu-bulu kucing juga sering nempel di motor dan akhirnya ke baju. Itu bisa bawa penyakit. Belum lagi pas mereka bertengkar dan merusak tanaman. Tidak ada yang membersihkan, akhirnya saya yang harus turun tangan, padahal bukan tanggung jawab saya," ungkapnya kesal.
Rizky juga menyayangkan perilaku orang-orang yang dengan sengaja membuang kucing peliharaannya di lingkungan tanpa berpikir panjang. Baginya, itu adalah bentuk pelepasan tanggung jawab yang merugikan orang lain.
"Sangat merasa terganggu jika ada orang yang sengaja membuang kucing mereka. Hal itu sangat menyebalkan, pasalnya dia seperti melepas tanggung jawab ke orang lain tanpa permisi, dan menimbulkan kekacauan serta lingkungan yang tidak kondusif untuk hidup," tegasnya.
Jika menemukan orang yang melakukan hal tersebut, tak segan-segan Rizky akan menegur terlebih dahulu. Namun jika tak ada respons, dia mempertimbangkan untuk melapor ke shelter kucing atau pihak yang berwenang agar segera ditindaklanjuti.
"Hal pertama saya akan menegur dia untuk lebih bisa merawat kucingnya dengan baik dan tidak mengganggu lingkungan saya. Tapi jika itu diabaikan, mungkin saya akan melapor ke shelter kucing untuk segera ditindaklanjuti," ujarnya.
Kontrol Pemerintah Kurang
Pakar Genetika Ekologi IPB University ini menilai ledakan populasi kucing liar di Jakarta ini tidak lepas dari belum efektifnya program pengontrolan populasi akibat sumber daya manusia (SDM) dan pendanaan yang masih terbatas serta kesadaran pemilik kucing dalam memelihara kucing dengan baik dan benar.
“Sering kali akibat tidak dilakukannya sterilisasi, kucing peliharaan beranak-pinak tidak terkendali. Peningkatan jumlah kucing yang dimiliki ini sering kali tidak diikuti dengan kemampuan untuk memelihara dan memberi makan kucing, sehingga akhirnya banyak kucing dibuang dan berkembang menjadi kucing liar,” ujar Prof Ronny.
Ronny berpandangan, sterilisasi kucingg merupakan salah satu cara untuk mengendalikan populasi kucing liar. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua keluarga mampu untuk mengeluarkan dana untuk sterilisasi kucing ini.
Sebagai gambaran, biaya yang paling murah untuk mensterilisasi kucing betina mencapai Rp300.000 – Rp400.000. Untuk kucing jantan, biaya yang diperlukan sedikit lebih murah, yaitu Rp250.000–Rp350.000. Belum lagi ada aturan bahwa sterilisasi kucing harus dilakukan oleh dokter hewan.
"Kerja sama antara dokter hewan dan masyarakat pencinta dan peduli kucing menjadi salah satu kunci yang sangat menentukan keberhasilan pengendalian populasi kucing, di samping tentunya peran pemerintah kota yang besar,” jelas Prof Ronny.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengendalian populasi kucing melalui program sterilisasi ini harus dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. Langkah ini penting untuk menghasilkan dampak yang nyata bagi pengurangan dan pengendalian populasi kucing liar di Jakarta.
Dia menjelaskan, masalah ledakan kucing liar ini tidak terlepas dari kesadaran masyarakat yang biasanya membuang anak-anak kucing jika sudah tidak mampu lagi memeliharanya. Kebiasaan ini menambah kompleks masalah karena berkontribusi besar dalam peningkatan populasi kucing liar di Jakarta.
“Kebiasaan masyarakat yang menangkap kucing liar yang ada di sekitar rumahnya dan membuangnya ke tempat lain juga berperan besar dalam penyebaran populasi,” tutur Prof Ronny.
Upaya Pemerintah
Demi menekan populasi kucing, Gubernur Jakarta Pramono Anung berencana menambah kuota sterilisasi kucing di puskeswan. Sebanyak 22 ribu kucing liar ditargetkan bisa distrerilisasi pada tahun 2025. Langkah ini diambil sebagai bagian dari program pengendalian populasi kucing liar di wilayah ibu kota.
"Mudah-mudahan dengan sterilisasi itu populasi kucing di Jakarta menurun," kata Pramono Anung di Jakarta, Selasa (3/6).
Pramono menilai, program sterilisasi ini metode paling efektif dalam mencegah pertumbuhan populasi kucing jalanan yang tidak terkendali. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta bakal mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjalankan program ini.
“Persoalan kucing ini yang kemudian beranak pinak terlalu cepat, maka sterilisasi itu akan tetap kami lanjutkan,” tegas Pramono.
Selama ini, kata Pramono, hanya ada satu puskeswan yang terletak di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. Menurutnya, satu puskeswan itu belum cukup untuk mengontrol kembang biak kucing.
"Jadi untuk BPJS Hewan kan memang ada usulan. Kita sekarang ini baru punya puskesmas hewan di satu tempat, yaitu di Ragunan. Sangat kurang untuk Jakarta. Salah satu problem di Jakarta adalah kucing," terangnya.
Selain fokus pada program sterilisasi massal, Pemprov DKI juga tengah mengkaji wacana pembangunan pulau khusus kucing di Kepulauan Seribu, yang sebelumnya sempat menuai sorotan publik.
“Ketika sudah dikaji, untung ruginya lebih banyak mana, manfaatnya di mana, maka baru kemudian kami memutuskan,” ujar Pramono terkait rencana tersebut.
Cara Negara Lain Kelola Kucing Liar
Tidak hanya di Indonesia, masalah kucing liar juga dialami banyak negara. Sejumlah negara dengan masalah tersebut menerapkan beberapa upaya untuk mengendalikan populasi kucing liar. Berikut cara negara-negara di dunia menangani masalah kucing liar:
1. Australia
Pemerintah Australia telah mendeklarasikan perang terhadap kucing liar sejak 2015. Pemerintah menjanjikan bantuan senilai AUD 5 juta (setara Rp54,5 miliar) untuk mendukung kelompok masyarakat yang dapat menargetkan kucing di garis depan. Seperti contoh di Queensland, dewan pemerintahan setempat menawarkan hadiah sebesar 10 dolar Australia (setara Rp 109 ribu) per ekor kucing liar yang berhasil ditangkap
Tetapi rencana itu mendapat kecaman, dan yang mengejutkan, para konservasionis adalah di antara para kritikus terdepan.
2. Amerika Serikat
Amerika Serikat menerapkan Trap-Neuter-Return (TNR) untuk mengatasi masalah kucing liar. TNR adalah metode pengendalian yang dilakukan dengan ucing liar ditangkap terlebih dahulu secara manusiawi, disterilisasi (kastrasi untuk jantan, spay untuk betina), divaksinasi (biasanya untuk rabies), dan ditandai (misalnya dengan memotong ujung telinga). Kucing kemudian dilepaskan kembali ke lokasi asalnya. TNR didukung oleh organisasi seperti ASPCA dan Humane Society. Studi di New York menunjukkan penurunan asupan kucing liar ke shelter setelah program TNR selama 8 bulan.
3. Italia
Program TNR di Roma menghasilkan penurunan populasi kucing liar sebesar 16–32%, tetapi memerlukan tingkat sterilisasi tinggi (71–94%) untuk efektif.
4. Belgia
Undang-undang mewajibkan sterilisasi kucing rumahan sebelum usia 5 bulan dan registrasi oleh dokter hewan. Kota bertanggung jawab atas pengendalian kucing liar dengan metode ramah hewan.
Belgia juga menerapkan aturan kampanye edukasi untuk mendorong kepemilikan kucing yang bertanggung jawab (sterilisasi, vaksinasi, identifikasi) dan peraturan untuk mencegah pembuangan kucing.