Malam Mencekam Toko Kopi Luwak di Gondangdia Saat Kerusuhan Mei 1998
Toko Kopi Luwak Gondangdia di Jakarta Pusat menjadi salah satu usaha yang bertahan dari peristiwa Mei 1998.
Lunardi Valanchie tergopoh-gopoh mendengar suara bel berbunyi di tokonya satu kali. Dia membuka gerbang, menyambut dengan raut wajah ramah penuh senyum, menuntun saya memasuki etalase biji kopinya.
Pria berusia 68 tahun itu baru kedatangan pengunjung sejak pagi, semringahnya mungkin karena berpikir ada rezeki pembuka hari. Sementara saya datang ke toko dengan motif lain, mendengarkan ceritanya saat kerusuhan Mei 1998.
Toko Kopi Luwak Gondangdia di Jakarta Pusat menjadi salah satu usaha yang bertahan dari peristiwa Mei 1998. Kondisi terkini, bangunan yang berada tepat di samping Stasiun Gondangdia itu tampak tertutup dan dipagari hingga atap. Bagi pengunjung yang hendak berbelanja, harus menekan bel untuk kemudian dibukakan pagarnya.
"Bersyukur saya tidak dijahati, warung sebelah kena lempar batu," tutur Lunardi mengawali ceritanya kepada Liputan6.com, Jumat (23/5).
Raut wajah pria tua itu sama sekali tidak berubah, tetap ramah, meski setelah mendengar maksud dan kedatangan saya. Dia justru aktif banyak bicara, seolah ingin ditemani ngobrol.
"Koh, saya belanja setengah kilo Robusta, digilingkan kan ya,” ucap saya memecah cerita panjang Lunardi tentang keluarganya, disambut tawa dan tepukan di bahu.
“Gampang, disiapin. Kopi semua dari Lampung, kampungmu itu,” balas Lunardi.
Kembali ke Mei 1998, Lunardi mengaku panik bukan kepalang saat mendengar toko tetangganya terkena lemparan batu jelang malam. Benaknya memutar kembali momen kerusuhan Mei 1998, diingat-ingat, menimbulkan rasa merinding di sekujur tubuh.
“Malam itu sangat mencekam. Tidak tahu harus apa, semua ketakutan. Tidak bisa tidur, sampai pagi,” kenang Lunardi.
Lunardi saat itu baru sekitar 35 tahun, tinggal bersama kedua orang tuanya, serta istri dan anak semata wayang berusia 5 tahun. Peristiwa Mei 1998 sendiri terjadi pada tanggal 15 sampai 18, sementara ingatan pemilik nama Xi Yi Lun itu agak kabur, hanya terlintas suasana malam.
Bersama orang tuanya, dia merencanakan pelarian, yang sebenarnya sangat bingung hendak ke mana lagi. Saking pasrahnya, bahkan jika bisa sampai ke wilayah Cikini pun dianggapnya sudah berhasil kabur.
“Waktu bapak saya masih hidup, bukan apa-apa ya, semua sudah disiapin,” kata Lunardi.
“Bersiap apa?,” tanya saya.
“Cabut. Tapi percuma juga nggak bisa jalan lah. Ya iya (situasi rusuh),” sahut Lunardi.
Kesaksian Pedagang Kopi
Lunardi mengulas pergaulannya dengan anak-anak muda Kampung Menteng Kecil, yang membuat keluarganya dikenal dan mendapatkan perlakuan baik warga sekitar. Malam itu, dia hanya mengandalkan sikap masyarakat setempat.
Dia merasa, tokonya tidak menjadi sasaran penjarahan dan pengerusakan lantaran rasa aman diberikan orang-orang yang kenal dengannya itu. Kembali dia bersyukur, bisa diterima meski lahir sebagai etnis Tionghoa.
Malam itu, suara-suara bising terdengar, sesekali dia mengintip dari celah besi rumahnya di lantai dua. Dia cuma bisa berdoa bersama keluarga, berdoa panjang, saling menguatkan.
“Jadi waktu 98 gara-garanya bersyukur saya dari masa kecil sudah bangun di kampung sana. Itu dekat SMP 18 sebelahnya. Waduh, emang bersyukur juga kita ya, anak kampung ini ya,” ujar dia.
Dia mengungkap saat itu toko tutup tiga hari. Selama itu, perbekalan makanan di rumah masih aman, sambil menunggu situasi rusuh mereda. Sementara hunian di belakang, yang entah dia menunjuk ke arah mana, disebut jadi sasaran pelemparan batu. Kaca pecah, bahkan tembok bangunan rumah rusak terimbas.
“Jadi tetangga saya ini untung banyak kenalan juga sama orang sana,” terang Lunardi.
Langganan Paspampres
Saya melihat jam, 11.45 WIB, mendekati waktu Salat Jumat. Lunardi terus bercerita sembari mengajak berkeliling toko, memamerkan berbagai catatan di buku, mesin penggiling kopi jadul, mengulas kebakaran 2012 yang membuatnya vakum dagang 2 tahun dan baru buka kembali 2014, hingga membahas pengalaman peristiwa Malari 1974.
Meski tua, dia gagah. Pikirannya kemudian teralihkan saat melihat ID Pers Istana Negara, katanya dulu Paspampres biasa lalu lalang depan tokonya.
“Di sini dulu banyak Paspampres, itu dari Teuku Umar. Main karambol di samping, mana berani warga buat masalah. Mabok aja nggak berani, aman di sini,” jelas dia.
Malam Mei 1998 juga diwarnai pengerahan tentara di jalan depan tokonya. Entah mungkin satu kompi, yang pasti banyak kata dia. Lunardi pun tidak jadi melarikan diri bersama keluarga. Saat berbincang, bapak satu anak itu berkali-kali mengulang rasa syukur.
“Sekarang sudah banyak pindah tetangga. Tidak banyak yang kenal lagi. Langganan juga banyak tidak balik habis kebakaran 2012, dikira sudah tutup mungkin ya,” tutur Lunardi.
Toko Kopi Luwak Gondangdia masih berdiri sejak 1930 hingga saat ini, dulu namanya Toko Kopi Burung Kenari. Papan alamat tertulis di pagar, Jalan Srikaya 1 Nomor 25, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat.
Soal rejeki, Lunardi mengeluarkan kalimat bijaksana tersirat makna. Meski kondisi pemasukan tidak banyak, kafe kopi instan di mana-mana, harta hanya hasil warisan orang tua yang itu pun jadi bahasan terus dengan kedua adiknya, dia santai.
“Hidup mau cari apa, sudah cukup. Begini saja bersyukur, anak sudah hidup sama keluarganya. Saya sama istri berdua, toko kalau ada bel ya dibukakan, nggak ada libur, masa rezeki ditolak. Kalau digembok berarti tutup, sedang keluar. Dinikmati saja,” katanya.
Sebelum lupa, saya tanyakan kenapa namanya berganti dari Li Xi Lun menjadi Lunardi Valanchie. Dia menjawab malu-malu, tidak jelas penyampaiannya, saya tidak memaksa. Intinya, bukan akibat peristiwa Mei 1998.
Saya pamit, Lunardi bergegas menimbang kopi Robusta, menyalakan mesin penggiling, dan membungkusnya. Tapi tetap sambil bercerita, ke sana kemari, seolah masih ingin ditemani berbincang. Saya harus salat Jumat.
“Pokoknya malam 98 itu mencekam sekali. Mencekam. Selamat Jumat, hati-hati,” tutupnya melambaikan tangan.
Pembayaran harus tunai, Lunardi tidak punya rekening. Saya memacu motor ke Masjid Cut Meutia. Sampai sana, jemaah keluar di tengah rintik hujan, “Maaf ya Allah,” batin saya.