Benarkah Jeroan Bikin Asam Urat Melejit? Ini Fakta-Faktanya yang Penting Dipahami
Konsumsi jeroan dapat meningkatkan kadar asam urat, tetapi dengan pola makan yang bijak, risiko tersebut masih dapat diminimalisir.
Makanan yang terbuat dari jeroan seperti hati, babat, dan usus sering kali menjadi pilihan favorit banyak orang. Berbagai bahan tersebut biasanya diolah menjadi masakan yang sangat lezat, seperti gongso, soto, gulai, tengkleng, hingga nasi goreng. Namun, ada informasi yang beredar bahwa konsumsi jeroan dapat menyebabkan berbagai penyakit, terutama asam urat.
Apakah hal ini benar? Asam urat merupakan zat yang dihasilkan dari pemecahan purin dalam tubuh, dan makanan yang mengandung purin tinggi sering kali menjadi penyebab utama. Jeroan dikenal sebagai salah satu sumber purin yang paling tinggi, sehingga sering kali dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya kadar asam urat dalam darah.
Namun, untuk memberikan jawaban yang tepat, penting untuk meneliti fakta-fakta ilmiah mengenai hubungan antara konsumsi jeroan dan peningkatan asam urat. Berikut ini, merdeka.com menyajikan informasi yang relevan, mengingat penyakit ini menjadi salah satu yang banyak diderita oleh masyarakat, termasuk kalangan muda.
1. Benarkah Jeroan Bisa Picu Asam Urat? Ini Bukti Klinisnya
Mengacu pada informasi yang disampaikan oleh National Library of Medicine: National Center For Biotechnology Information yang dikelola oleh pemerintah Amerika Serikat, jeroan diketahui memiliki kandungan purin yang tinggi. Kandungan ini dapat menyebabkan peningkatan kadar asam urat dalam darah. Ketika purin dipecah oleh tubuh, asam urat terbentuk dan seharusnya dikeluarkan melalui ginjal. Namun, jika asupan purin berlebihan, terutama dari sumber seperti hati atau ginjal sapi, kadar asam urat dalam tubuh bisa meningkat dengan signifikan dan berpotensi menyebabkan gout. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mengonsumsi daging organ hewan dalam jumlah tinggi memiliki risiko lebih besar untuk mengalami gout dibandingkan mereka yang mengonsumsi daging dengan kadar purin rendah.
Walaupun tubuh manusia dapat mentoleransi purin alami yang berasal dari tumbuhan, purin yang terdapat dalam jeroan hewani cenderung lebih cepat meningkatkan kadar serum urat. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua individu yang mengonsumsi jeroan akan mengalami gout. Faktor-faktor seperti genetika, fungsi ginjal, dan gaya hidup juga sangat mempengaruhi. Dengan kata lain, meskipun jeroan dapat memicu peningkatan kadar asam urat, dampaknya bervariasi tergantung pada kondisi metabolisme masing-masing individu.
"Asupan makanan tinggi purin yang berlebihan, termasuk makanan laut dan jeroan hewan, dapat memicu akumulasi metabolit purin yang berlebihan, sehingga menimbulkan akumulasi asam urat yang berlebihan dalam tubuh," tulis laman tersebut, dikutip, Rabu (16/7).
2. Purin Tinggi Jadi Pemicu Utama, Tapi Penyakit Lain Juga Mengintai
Selain asam urat, mengonsumsi jeroan dalam jumlah berlebihan juga dapat memicu berbagai penyakit serius lainnya. Tingginya kandungan kolesterol dan lemak jenuh dalam jeroan berpotensi menimbulkan penyakit kardiovaskular, seperti penyumbatan pembuluh darah dan hipertensi. Kondisi ini semakin parah jika pola makan didominasi oleh protein hewani tanpa cukup serat dan antioksidan yang berasal dari buah-buahan serta sayuran.
Dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol.6, No. 1 Hal. 54-65, Wahidah dan Reni Agustina Harahap menyatakan dalam artikel berjudul PJK (Penyakit Jantung Koroner) dan SKA (Sindrom Koroner Akut) dari Perspektif Epidemiologi, bahwa penyakit kardiovaskular, termasuk jantung koroner, disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah akibat adanya plak. Plak ini terbentuk karena tingginya kadar kolesterol LDL yang menumpuk di dinding arteri, yang merupakan jalur utama aliran darah. Jika plak ini sudah sangat tebal, dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah melalui proses yang disebut Aterosklerosis.
Akibatnya, ketika aliran darah ke jaringan dan organ vital terhambat, akan muncul berbagai manifestasi seperti koroner arteri, infark miokard, penyakit vaskular perifer, aneurisma, dan kecelakaan serebrovaskular (stroke).
"Penumpukkan flak dalam arteri koroner membawa oksigen ke otot jantung bisamenimbulkan penyakit jantung koroner (PJK). WHO mengatakan bahwah penyakit jantung sertapembuluh darah menjadi penyebab kematian di dunia peringkat satu," tulis jurnal tersebut.
3. Konsumsi Jeroan Aman Jika Perhatikan Batas dan Polanya
Meskipun jeroan sering kali dianggap tidak sehat, bukan berarti orang yang sehat harus sepenuhnya menjauhinya. Kuncinya terletak pada cara konsumsi yang seimbang, frekuensi yang terbatas, dan metode pengolahan yang benar. Dalam jurnal kesehatan yang diterbitkan oleh eMedicineHealth, dinyatakan bahwa konsumsi purin di bawah 400 mg per hari umumnya aman bagi kebanyakan individu yang sehat, sehingga jeroan dapat dinikmati sesekali dalam porsi kecil. Selain itu, ada beberapa tips untuk mengonsumsinya dengan aman, seperti menghindari jeroan saat perut kosong, memastikan asupan air putih yang cukup, serta tidak mengonsumsinya saat tubuh mengalami dehidrasi atau sakit.
Juga penting untuk tidak menggabungkan jeroan dengan makanan yang tinggi purin lainnya seperti kerang, daging merah, atau kacang-kacangan dalam satu kali makan. Bagi mereka yang tidak memiliki riwayat gout dan memiliki fungsi ginjal yang baik, jeroan bisa dinikmati maksimal sebulan sekali dalam porsi kecil. Namun, jika seseorang mengalami gejala seperti bengkak atau nyeri pada sendi, sebaiknya hindari jeroan sepenuhnya dan berkonsultasilah dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
"Beberapa jenis daging mengandung purin lebih tinggi daripada yang lain, dan harus dihindari sama sekali bagi penderita asam urat berulang." kata dokter spesialis Kedokteran Gawat Darurat sekaligus mantan Kepala Kedokteran Gawat Darurat di UT Medical Branch dan di UTHSCSA, Charles Patrick Davis , MD, PhD di laman emedicinehealth.com.
4. Terlanjur Asam Urat Tinggi? Ini Langkah Pengobatan yang Disarankan
Jika kadar asam urat dalam darah telah melebihi batas normal, sangat penting untuk segera melakukan perubahan dalam gaya hidup serta mempertimbangkan pengobatan yang tepat. Diet rendah purin menjadi langkah awal yang perlu diambil, diiringi dengan konsumsi air putih minimal dua liter setiap hari, serta membatasi asupan daging merah dan jeroan. Dengan melakukan langkah-langkah ini, kadar asam urat dapat diturunkan secara bertahap. Selain itu, dokter biasanya meresepkan obat seperti allopurinol atau febuxostat untuk mengurangi produksi asam urat dalam tubuh. Untuk meredakan rasa nyeri akibat peradangan pada sendi, colchicine atau NSAID sering digunakan. Terapi ini perlu dijalani secara konsisten, karena menghentikannya tanpa pengawasan medis dapat memicu kekambuhan atau komplikasi yang lebih serius.
Di samping pengobatan medis, penting juga untuk menerapkan gaya hidup sehat, seperti menjaga berat badan ideal, melakukan olahraga ringan, serta menghindari konsumsi minuman beralkohol dan yang mengandung fruktosa tinggi. Beberapa pasien melaporkan bahwa suplementasi vitamin C dan konsumsi ceri hitam memberikan manfaat sebagai tambahan dalam terapi alami, meskipun bukti ilmiah mengenai hal ini masih bersifat observasional. Oleh karena itu, menjaga pola hidup sehat dan mengikuti anjuran dokter sangat penting dalam mengelola kadar asam urat agar tetap stabil dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.
5. Tak Hanya Jeroan, Ini Makanan Lain yang Bisa Picu Asam Urat
Jeroan bukanlah satu-satunya jenis makanan yang dapat memicu asam urat. Berdasarkan informasi dari EMC dan eMedicineHealth, terdapat beberapa jenis makanan lain yang sebaiknya dihindari, seperti daging merah (sapi dan kambing), makanan laut (kerang, udang, dan tuna), serta minuman yang mengandung gula tinggi, terutama fruktosa seperti soda. Semua makanan mengandung purin atau gula yang dapat mempercepat metabolisme purin dalam tubuh. Selain itu, makanan olahan seperti sosis, kornet, dan makanan kaleng juga sebaiknya dihindari karena mengandung zat tambahan dan sodium yang dapat memperburuk tekanan darah serta gangguan pada ginjal.
Konsumsi alkohol, terutama bir, memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan kadar asam urat karena dapat menghambat pengeluaran zat tersebut melalui ginjal. Sebagai alternatif yang lebih aman, disarankan untuk mengganti sumber protein hewani dengan protein nabati, seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan, namun tetap dalam jumlah yang moderat. Mengonsumsi buah-buahan yang kaya akan vitamin C, seperti stroberi, jeruk, atau jambu, juga dapat berkontribusi dalam menstabilkan kadar asam urat. Oleh karena itu, menerapkan gaya hidup yang seimbang serta memilih makanan yang tepat sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh tanpa harus mengorbankan kenikmatan dalam menikmati kuliner.