VIDEO Aktivis Flotilla Dilecehkan dan Dipaksa Berlutut dengan Tangan Diikat, Diperdengarkan Lagu Kebangsaan Israel
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengunggah video aktivis flotilla sedang ditahan dan dilecehkan.
Polisi Israel pada Rabu memaksa para aktivis Global Sumud Flotilla yang berada di atas armada bantuan menuju Gaza untuk berlutut di tanah dalam barisan dengan tangan terikat di belakang punggung mereka, sementara seorang menteri menyaksikan kejadian tersebut. Tindakan itu memicu kritik dari para pemimpin dunia hingga dari dalam pemerintahan Israel sendiri.
Para aktivis ditahan setelah armada mereka dicegat oleh pasukan Israel di perairan internasional pada Selasa dan kemudian dibawa ke sebuah pelabuhan di Israel.
Kementerian Luar Negeri mengatakan sembilan warga negara Indonesia yang ikut dalam misi kemanusiaan itu juga termasuk yang ditangkap Israel.
Kantor berita Reuters melaporkan, Rabu (20/5), armada tersebut berlayar dari wilayah selatan Turki sebagai upaya terbaru untuk mengirimkan bantuan ke Gaza yang hancur akibat perang, setelah misi-misi sebelumnya juga dicegat Israel.
Penyelenggara mengatakan mereka bertujuan menembus blokade Israel terhadap Gaza dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan, sesuatu yang menurut lembaga bantuan masih sangat kurang meski telah ada gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Hamas sejak Oktober 2025 yang mencakup jaminan peningkatan bantuan.
Israel menyatakan blokade laut terhadap Gaza adalah tindakan yang sah menurut hukum.
Menteri Israel Berselisih soal Video Penahanan
Setelah polisi menahan para aktivis, yang menurut penyelenggara berjumlah 430 orang termasuk warga Italia dan Korea Selatan, Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir mengunggah video di platform X yang memperlihatkan petugas memaksa seorang aktivis jatuh ke tanah setelah ia meneriakkan “Free, free Palestine”.
Video tersebut juga menunjukkan puluhan aktivis yang ditahan berlutut dalam barisan dengan tangan diikat kabel ties di belakang punggung mereka, di sebuah fasilitas pelabuhan Israel di ruang terbuka. Di latar belakang, tentara bersenjata laras panjang tampak berpatroli dari atas kapal militer.
“Mereka datang sebagai pahlawan besar,” kata Ben-Gvir dalam video sambil berjalan melewati para aktivis dengan membawa bendera besar Israel. “Lihat mereka sekarang. Lihat bagaimana keadaan mereka sekarang, bukan pahlawan dan bukan apa-apa.”
Netanyahu Instruksikan Aktivis Segera Dideportasi
Sikap Ben-Gvir memicu kritik keras bahkan dari dalam koalisi pemerintahan Israel sendiri. Menteri Luar Negeri Gideon Saar membagikan ulang video tersebut dan menuduh Ben-Gvir merugikan Israel.
“Anda telah merusak upaya besar, profesional, dan sukses yang dilakukan begitu banyak orang — mulai dari tentara IDF hingga staf Kementerian Luar Negeri dan banyak lainnya,” tulis Saar.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membela hak Israel untuk mencegat armada tersebut, namun mengatakan perlakuan Ben-Gvir terhadap para aktivis “tidak sesuai dengan nilai dan norma Israel”.
Netanyahu mengatakan ia telah menginstruksikan agar para aktivis segera dideportasi.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut tindakan Ben-Gvir terhadap para aktivis armada bantuan itu “tidak dapat diterima”. Italia sebelumnya menyatakan warganya berada di atas kapal, termasuk seorang anggota parlemen dan seorang jurnalis.
Meloni mengatakan Italia mengharapkan permintaan maaf dari Israel dan akan memanggil duta besar Israel untuk memberikan penjelasan. Pernyataan keras itu juga disampaikan bersama Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani.
Sangat Keterlaluan
Warga Korea Selatan juga termasuk di antara mereka yang ditahan pasukan angkatan laut Israel, kata Presiden Lee Jae Myung pada Rabu, yang menyebut tindakan Israel “sangat keterlaluan”.
“Apa dasar hukum penangkapan ini? Apakah itu wilayah perairan Israel?” tanya Lee, seraya menambahkan, “Apakah itu wilayah Israel? Jika ada konflik, apakah mereka bisa menyita dan menahan kapal negara ketiga?”
Turki mengecam apa yang disebutnya sebagai tindakan kekerasan terhadap para aktivis dan mengatakan sedang bekerja sama dengan negara-negara lain untuk memastikan pembebasan cepat dan aman bagi warga Turki dan lainnya.
Prancis, Kanada, Spanyol, Portugal, dan Belanda juga memanggil diplomat tinggi Israel di negara mereka terkait perlakuan terhadap anggota armada bantuan Gaza tersebut.
Aktivis Disebut Akan Dibawa ke Penjara
Para aktivis di armada bantuan sebelumnya yang dicegat biasanya dideportasi setelah ditahan.
Israel mengatakan para aktivis di kapal armada terbaru itu telah dipindahkan ke kapal Israel dan akan diizinkan bertemu perwakilan konsuler mereka setelah tiba di Israel. Penyelenggara menyebut peserta armada berasal dari 40 negara dengan total 50 kapal.
Kelompok hak asasi manusia Israel, Adalah, mengatakan dalam pernyataannya bahwa para aktivis ditahan di Pelabuhan Ashdod.
“Pengacara Adalah bersama tim relawan telah memasuki fasilitas pelabuhan dalam beberapa jam terakhir, memberikan konsultasi hukum kepada mereka, dan akan terus menuntut pembebasan segera tanpa syarat,” kata Adalah.
Penyelenggara armada mengatakan para aktivis akan dibawa ke Penjara Ketziot di Gurun Negev, Israel selatan. Mereka menyebut pengacara Adalah tidak akan dapat menemui para aktivis hingga mereka tiba di Ketziot.
Sebagian besar dari lebih dari 2 juta penduduk Gaza telah mengungsi, banyak di antaranya kini tinggal di rumah-rumah yang hancur akibat bom dan tenda darurat yang didirikan di lahan terbuka, pinggir jalan, atau di atas reruntuhan bangunan.
Israel, yang mengontrol seluruh akses menuju Jalur Gaza, membantah menahan pasokan bagi warga Gaza. Israel tetap menguasai lebih dari 60% wilayah Gaza sejak gencatan senjata yang didukung AS pada Oktober lalu, sementara kelompok militan Hamas menguasai sebagian kecil wilayah pesisir.