Netanyahu Nominasikan Trump untuk Raih Nobel Perdamaian, Alasannya karena Pelopor Perdamaian Timur Tengah
Netanyahu kemarin mengunjungi Gedung Putih untuk menemui Trump.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kemarin mengatakan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa ia telah mencalonkannya untuk meraih penghargaan Nobel Perdamaian. Netanyahu menyerahkan surat pencalonan itu kepada Trump selama pertemuan di Gedung Putih.
"Saya ingin menyampaikan penghargaan dan kekaguman yang mendalam, tidak hanya dari seluruh rakyat Israel, tetapi juga dari umat Yahudi," kata Netanyahu.
"Presiden telah mewujudkan peluang besar. Ia mempelopori Abraham Accords, ia sedang menjalin perdamaian saat ini dengan satu negara dan satu wilayah demi wilayah lainnya," ujar Netanyahu.
"Saya ingin menyerahkan kepada Anda, Tuan Presiden, surat yang saya kirimkan kepada komite Hadiah Nobel. Surat ini mencalonkan Anda untuk Hadiah Perdamaian," kata Netanyahu seraya menyerahkan surat itu kepada Trump.
"Terima kasih banyak. Khususnya dari Anda, ini sangat berarti. Terima kasih," balas Trump, seperti dilansir the Jerusalem Post, Selasa (8/7).
Sedang mencaari negara untuk menampung warga Palestina
Abraham Accords merupakan serangkaian perjanjian normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan beberapa negara Arab, ditandatangani pada tahun 2020. Perjanjian ini digagas Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, melibatkan Israel, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan kemudian diperluas ke Maroko dan Sudan.
Tujuannya adalah untuk mempromosikan perdamaian, kerja sama ekonomi, dan stabilitas regional di Timur Tengah. Perjanjian ini menandai langkah bersejarah karena merupakan normalisasi hubungan pertama antara Israel dan negara-negara Arab Teluk dalam lebih dari dua dekade, tanpa menyelesaikan konflik Israel-Palestina terlebih dahulu.
Berbicara kepada wartawan di awal pertemuan mereka, Netanyahu mengatakan Israel sedang bekerja sama dengan AS untuk mencari negara-negara yang akan memberikan masa depan yang lebih baik bagi warga Palestina.
Solusi dua negara
Ketika ditanya tentang solusi dua negara oleh seorang wartawan, Netanyahu menyatakan warga Palestina harus memiliki "kekuasaan untuk memerintah diri mereka sendiri tetapi tidak memiliki kekuasaan untuk menyakiti kami."
Trump mengatakan Iran ingin berbicara, Witkoff mengatakan pembicaraan akan berlangsung minggu depan.
"Saya harap [perang] telah berakhir," jawab Trump kepada seorang jurnalis yang bertanya apakah perang antara Israel dan Iran telah berakhir atau belum.
"Saya pikir Iran ingin bertemu...Saya pikir mereka ingin berdamai. Dan saya sangat mendukungnya. Namun, jika itu tidak terjadi, kami siap, bersedia, dan mampu."
Utusan khusus AS Steve Witkoff juga menyatakan bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai program nuklirnya akan dilanjutkan minggu depan.
Pengunjuk rasa pro-Palestina berkumpul di luar Gedung Putih saat Netanyahu tiba pada Senin malam menjelang pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di Washington.
Seorang pejabat Israel mengatakan kepada The Jerusalem Post pada hari Minggu bahwa Netanyahu akan meminta Trump untuk memberikan "lampu hijau" untuk mengambil tindakan terhadap segala aktivitas Iran yang terkait dengan pembangunan kembali program nuklir Teheran.