Netanyahu Isyaratkan Serangan ke Pemimpin Hamas di Luar Negeri
Netanyahu menyatakan bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri di mana saja musuh berada.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa tidak akan memberikan kekebalan kepada para pemimpin Hamas, meskipun setelah serangan yang menuai kontroversi di Qatar pekan lalu.
Ia menyatakan dengan tegas bahwa Israel berhak untuk mempertahankan diri "di mana pun musuh berada." Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Yerusalem, bersama dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Netanyahu juga menolak anggapan bahwa Washington terlibat dalam serangan terhadap Hamas yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat.
"Kami melakukannya sendiri. Titik," ungkapnya kepada para wartawan, seperti yang dilaporkan di laman berita.
Serangan ini telah memicu kecaman dari berbagai pihak di tingkat internasional, termasuk dari Presiden AS, Donald Trump. Hamas mengklaim bahwa enam orang tewas dalam serangan tersebut, meskipun para pemimpin utama mereka selamat.
Gedung Putih bahkan telah memberikan jaminan kepada Qatar bahwa insiden serupa "tidak akan terulang di wilayah mereka."
Meskipun terdapat ketegangan antara kedua negara, Rubio dan Netanyahu tetap menunjukkan hubungan diplomatik yang hangat.
Rubio memuji hubungan dalam bidang teknologi dan budaya antara AS dan Israel, sementara Netanyahu menyebut Washington sebagai sekutu yang "tak tergantikan." Rubio dijadwalkan untuk melanjutkan perjalanannya ke Qatar setelah kunjungannya di Israel.
Qatar di Tengah Badai Politik
Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan udara utama AS dan berperan sebagai mediator dalam perundingan antara Hamas dan Israel sejak tahun 2012, kini sedang menghadapi tekanan yang signifikan.
Perdana Menteri Qatar telah menyerukan kepada komunitas internasional untuk menghentikan "standar ganda" dan menuntut agar Israel bertanggung jawab atas tindakan yang diambilnya.
Dalam upaya untuk meredakan ketegangan yang ada, Trump juga berusaha untuk menenangkan situasi. Ketika ditanya oleh wartawan mengenai kemungkinan serangan Israel ke Qatar di masa depan, ia menegaskan dua kali bahwa Netanyahu "tidak akan melakukannya."
Krisis kemanusiaan di Gaza sangat memprihatinkan
Di sisi lain, keadaan di Gaza semakin kritis. Israel melanjutkan serangan di Kota Gaza, menghancurkan berbagai bangunan tempat tinggal, serta bersiap untuk operasi darat di bagian barat kota.
Militer Israel telah mengimbau warga untuk berpindah ke selatan, namun situasi di sana juga tidak kalah berbahaya akibat serangan udara.
Diperkirakan sekitar 250.000 warga Palestina telah mengungsi, tetapi masih ada ratusan ribu lainnya yang memilih untuk bertahan. Banyak di antara mereka yang tidak mampu meninggalkan rumah karena kekurangan uang, tenda, dan transportasi.
"Kalau bicara dengan sopir untuk pergi ke selatan, biayanya 300 shekel," ungkap Hafez Habous, seorang warga Gaza.
"Aku bahkan tidak punya 100 shekel, bahkan tidak punya uang untuk makan besok. Jadi bagaimana caranya kami bisa pindah?"
Krisis ini menunjukkan dilema yang dihadapi warga Gaza, terjebak di tengah serangan Israel dan terbatasnya akses untuk menyelamatkan diri.