Nasib Pilu Dokter di Gaza Kehilangan 9 dari 10 Anaknya dalam Bombardir Israel, Mereka Semua Hangus Terbakar
Alaa al-Najjar tengah merawat korban serangan Israel saat anak-anaknya tewas dalam serangan Israel di rumah mereka.
Seorang dokter anak Palestina menerima jenazah tujuh anaknya yang hangus saat ia tengah bertugas. Anak-anaknya tewas setelah serangan Israel menghantam rumah mereka di Khan Younis, Gaza selatan.
Dr. Alaa al-Najjar adalah seorang perempuan spesialis anak di rumah sakit al-Tahrir di kompleks Rumah Sakit Nasser. Ia tengah merawat korban-korban serangan Israel pada Jumat lalu kemudian dirinya terkejut mendapati anak-anaknya sendiri dan suaminya dibawa ke rumah sakit.
Anak-anak Alaa mengalami luka bakar parah akibat bombardir Israel di rumah mereka. Usia mereka masih sangat muda, yang tertua berusia 13 tahun dan yang termuda baru berusia enam bulan.
Suaminya kritis
Sesaat sebelum serangan itu, Alaa sudah berangkat kerja bersama suaminya, Dr. Hamdi al-Najjar. Lalu suaminya kembali ke rumah setelah mengantar Najjar ke rumah sakit.
Tak lama setelah itu, serangan udara Israel menghantam rumah mereka di daerah Qizan al-Najjar di selatan Khan Younis, menewaskan sembilan dari 10 anak mereka dan melukai yang kesepuluh. Suami Najjar mengalami luka serius dan masih dalam dirawat secara intensif.
Dilansir Middle East Eye, Sabtu (24/5), rekaman yang dirilis oleh Pertahanan Sipil Palestina menunjukkan saat kru penyelamat menarik jenazah anak-anak dari reruntuhan, sementara api masih membakar rumah keluarga tersebut.
Petugas pertahanan sipil terdengar berteriak di antara reruntuhan dan mencari tanda-tanda kehidupan dengan putus asa. Mereka terhambat oleh kurangnya peralatan yang memadai dan skala kerusakan rumah tersebut sangat besar.
Tim pertahanan sipil melaporkan tujuh jenazah ditemukan dan dipindahkan ke Rumah Sakit Nasser, tempat ibu mereka bekerja. Dua lainnya, termasuk bayi berusia enam bulan, masih terperangkap di bawah reruntuhan. Anak-anak Alaa diidentifikasi sebagai Yahya, Rakan, Ruslan, Jubran, Eve, Revan, Sayden, Luqman, dan Sidra.
‘Anak-anak itu hangus terbakar’
Ali al-Najjar, saudara suami Alaa, bergegas ke lokasi kejadiaan begitu mendengar rumah saudaranya terkena bom.
“Seseorang menelpon kami dan mengatakan rumah itu dibom. Saya langsung bergegas ke sana bahkan sebelum petugas pertahanan sipil tiba,” kata dia.
Ketika tiba di lokasi kejadian, ia mendapati saudaranya, suami Alla, tergeletak tak bergerak di tanah dengan putranya di sampingnya. Rumah itu dilalap api.
“Anak-anak itu hangus terbakar,” kata Ali.
“Saya menggendong keponakan saya Adam dan sepupu saya yang terluka, dan segera membawa mereka ke rumah sakit.”
Beberapa saat kemudian, ia kembali ke rumah yang terbakar dan melihat saudara iparnya, dokter Alaa, yang tiba dalam kondisi ketakutan.
“Ia berlari dari rumah sakit ke rumah. Empat anaknya ditarik keluar, hangus, tepat di depan matanya,” ucap Ali.
Tak bisa dikenali
Ali menggambarkan penderitaan sang ibu karena tidak mengetahui nasib dua anak yang hilang.
“Tujuh anak ditemukan dari bawah reruntuhan. Dua lainnya, yakni Yahya yang berusia 13 tahun dan Sidra yang baru berusia 6 bulan, masih hilang. Kami tak dapat menemukan mereka.
Ia mengatakan tim pertahanan sipil melanjutkan pencarian keesokan paginya namun belum menemukan apa pun.
“Ibu mereka bahkan tidak bisa mengenali mayat-mayat itu. Anak-anak itu terbakar sangat parah sehingga ia tidak dapat membedakan siapa mereka.”
Ali mempertanyakan alasan di balik serangan mengerikan itu.
“Saya tidak tahu mengapa mereka menjadi sasaran. Mengapa mereka menargetkan saudara laki-laki saya? Tidak ada alasan lain, kecuali karena istrinya adalah seorang dokter.”
Perempuan yang tabah
Dokter Alaa berkeras untuk kembali bekerja tak lama setelah melahirkan anak bungsunya enam bulan lalu. Ia bertekad untuk merawat anak-anak yang menjadi korban serangan tanpa henti Israel dan di tengah kurangnya staf medis yang parah.
Dalam kesaksian wakil menteri kesehatan Palestina, Dr Yousef Abu al-Rish kepada Middle East Eye, ia mengatakan,
“Saya mendengar rekan kami, Dr. Alaa al-Najjar, sedang berdiri di ruang operasi, menunggu kabar apa pun tentang putranya, satu-satunya anak yang selamat dari sepuluh bersaudara. Saya segera bergegas ke sana, dengan firasat bahwa saya akan menyaksikan suatu potret kemanusiaan yang luar biasa di mana seorang dokter yang meninggalkan anak-anaknya sendiri di Gaza, sebuah tempat penuh penderitaan yang bahkan menceritakannya saja hanya akan memperdalam luka.”
“Dia meninggalkan mereka untuk memenuhi tugasnya kepada semua anak sakit yang tidak punya tempat lain untuk dituju selain rumah sakit Nasser, tempat yang penuh sesak dengan jeritan jiwa-jiwa tak berdosa.”
Dr Yousef kemudian melihat deretan pria dan wanita memenuhi lorong dengan wajah yang diselimuti kebingungan.
“Di antara wajah-wajah cemas itu, saya langsung mengenali ekspresi yang paling pilu. Saat hendak menyampaikan kata-kata penghiburan untuknya, ia justru menunjuk ke arah perempuan lain.
“Tak pernah saya sangka, perempuan yang tegar, sabar, dan penuh iman itu adalah Dr. Alaa al-Najja – ibu yang kehilangan hampir seluruh anaknya.”
Reporter Magang: Devina Faliza Rey