Microsoft Larang Penggunaan Kata 'Gaza' dan 'Palestina' dalam Komunikasi Internal Karyawan
Selain dua kata tersebut, perusahaan ini juga melarang kata 'genosida'.
Microsoft menerapkan kebijakan pemblokiran email karyawan yang berisi kata-kata "Palestina," "Gaza," atau "genosida" di server Exchange internalnya, seperti dilaporkan Drop Site News pada 22 Mei. Menurut No Azure for Apartheid, sekelompok karyawan Microsoft yang pro-Palestina, filter otomatis secara diam-diam mencegah email semacam itu sampai ke penerima.
Filter tersebut mulai berlaku pada Rabu setelah konferensi pengembang Microsoft Build, yang menghadapi gangguan berulang-ulang oleh kelompok aktivis tersebut, seperti dikutip dari The Cradle, Jumat (23/5).
Sejumlah karyawan Microsoft menentang keterlibatan perusahaan tersebut dalam perang Israel di Jalur Gaza, yang secara luas dianggap sebagai genosida. Para karyawan memprotes penyediaan layanan cloud dan infrastruktur penting lainnya oleh Microsoft yang digunakan oleh militer Israel.
Menjelang acara tahunan Build, yang ditujukan untuk para pengembang dan penggemar teknologi di seluruh dunia, perusahaan tersebut mengeluarkan laporan yang mengklaim penyelidikan internal menemukan operasi Microsoft tidak membahayakan warga sipil di Gaza. Microsoft menyediakan teknologi untuk Kementerian Pertahanan Israel, "menawarkan proposal yang disesuaikan dan diskon signifikan untuk layanan cloud dan AI. Kesepakatan ini, yang dinegosiasikan dan ditingkatkan selama berbulan-bulan, memposisikan Microsoft sebagai penyedia teknologi utama selama operasi militer Israel di Gaza," tulis Drop Site, berdasarkan tinjauan dokumen internal perusahaan.
Microsoft tidak membantah keaslian dokumen yang dikutip Drop Site dan mengakui telah menyediakan layanan Kecerdasan Buatan (AI) kepada Kementerian Pertahanan Israel, tetapi tetap mengklaim telah melakukan peninjauan dan menemukan teknologi Azure dan AI Microsoft, maupun perangkat lunak mereka yang lain, digunakan untuk menyerang atau menyakiti warga sipil.
Beberapa hari setelah dimulainya serangan Israel di Gaza pada tahun 2023, Microsoft mulai mencari kontrak baru dengan tentara Israel, mengantisipasi pengeluaran militer yang besar. Microsoft dengan cepat menjadi salah satu dari 500 pelanggan global teratas militer Israel.