Lima WNI Jadi Korban Gempa Myanmar, Indonesia Upayakan Evakuasi dan Kirim Bantuan Kemanusiaan
Lima WNI terdampak gempa Myanmar yang mematikan, Indonesia berupaya evakuasi dan kirim bantuan kemanusiaan.
Pada tanggal 28 Maret 2025, Myanmar diguncang gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengakibatkan lebih dari 3.000 jiwa melayang. Lima warga negara Indonesia (WNI) menjadi korban dalam bencana tersebut, dan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sedang berupaya mengevakuasi mereka dari Mandalay ke Yangon. Dari kelima WNI tersebut, empat di antaranya termasuk dalam kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus.
Gempa ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa yang besar, tetapi juga kerusakan infrastruktur yang parah. Pemerintah Indonesia telah mengirimkan bantuan kemanusiaan berupa 143 ton logistik senilai Rp 22,6 miliar (sekitar USD 1,3 juta), yang terdiri dari bahan pangan, obat-obatan, perlengkapan medis, dan perlengkapan penunjang pengungsian. Bantuan ini merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan dan komitmen untuk memperkuat kerja sama penanggulangan bencana di antara negara-negara ASEAN.
Direktur Pelindungan WNI dan BHI Kemlu RI, Judha Nugraha, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon dan Bangkok untuk memastikan keselamatan WNI di kedua negara. "Hingga saat ini belum ada laporan mengenai korban WNI akibat gempa tersebut, baik di Myanmar maupun Thailand," ujarnya.
Situasi WNI di Myanmar dan Thailand
Berdasarkan data Kemlu RI, terdapat sekitar 250 WNI yang tercatat berada di Myanmar, sementara jumlah WNI di Thailand mencapai 2.379 orang. KBRI Yangon dan KBRI Bangkok terus memantau situasi dan memberikan imbauan kepada WNI untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan. KBRI juga telah menyediakan nomor hotline untuk WNI yang membutuhkan bantuan darurat.
- Hotline KBRI Yangon: +9595037055
- Hotline KBRI Bangkok: +65929031103
Imbauan kewaspadaan ini penting mengingat potensi gempa susulan dan dampak kerusakan infrastruktur di beberapa wilayah. Di Mandalay, kerusakan infrastruktur dilaporkan cukup parah, termasuk runtuhnya Old Sagaing Bridge yang memutus akses antara Mandalay dan Sagaing. Otoritas Myanmar telah menetapkan status darurat bencana.
Tim SAR Indonesia Diterjunkan
Menanggapi bencana ini, Indonesia mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan (SAR) untuk membantu proses evakuasi dan penyelamatan korban. Tim SAR yang terdiri dari 53 personel ini diberangkatkan dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Selasa, 1 April 2024. Kepala BNPB, Suharyanto, menegaskan bahwa tim SAR Indonesia akan segera tiba di Myanmar untuk melakukan misi kemanusiaan.
Setibanya di lokasi bencana, tim akan langsung mencari korban yang terjebak di reruntuhan bangunan, mendirikan pos-pos bantuan kemanusiaan, dan memberikan pertolongan medis. "Kehadiran tim Indonesia ini juga menunjukkan komitmen Indonesia dalam membantu negara-negara ASEAN dalam menghadapi bencana alam," ujar Suharyanto.
Evakuasi Warga Negara Indonesia
Proses evakuasi terhadap lima WNI yang terdampak gempa dilakukan dengan koordinasi yang baik antara Kementerian Luar Negeri, KBRI Yangon, dan pihak berwenang Myanmar. Evakuasi ini mencerminkan kepedulian pemerintah Indonesia terhadap keselamatan dan kesejahteraan WNI di luar negeri dalam situasi darurat. Tim gabungan Indonesia yang terdiri dari berbagai instansi pemerintah bekerja sama secara efektif di lapangan.
Mereka langsung meninjau lokasi terdampak gempa di sekitar Naypyitaw dan mendirikan pusat operasi untuk mengkoordinasikan kegiatan bantuan. "Tim Indonesia telah mengupayakan evakuasi 5 orang WNI terdampak bencana gempa dari Mandalay ke Yangon. Di antara kelima WNI tersebut, empat di antaranya merupakan kelompok rentan," ungkap pimpinan tim bantuan.
Bantuan Kemanusiaan Indonesia
Bantuan kemanusiaan Indonesia kloter terakhir untuk para korban gempa Myanmar telah tiba pada Kamis, 3 April 2025. Bantuan ini diterima oleh Soe Kyi, Deputy Minister of Social Welfare Relief and Resettlement di Bandara Naypyidaw. "
Bantuan ini sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan rakyat Indonesia kepada rakyat Myanmar dan wujud komitmen Indonesia untuk memperkuat kerjasama penanggulangan bencana diantara negara ASEAN," ujar pimpinan tim bantuan.
Setiba di Naypyidaw, pimpinan tim langsung melakukan peninjauan ke lokasi terdampak gempa di sekitar ibu kota Myanmar dan ke base-op Tim Gabungan Indonesia. Kehadiran tim bantuan internasional, termasuk dari Indonesia, menunjukkan solidaritas global dalam menghadapi bencana alam yang telah menimbulkan dampak yang sangat besar.