Laporan Investigasi: Israel Sengaja Tingkatkan Serangan Terhadap Rumah Sakit Gaza
Dalam sepekan terakhir Israel sengaja menyerang sejumlah rumah sakit di Gaza.
Investigasi terbaru oleh Haaretz Israel mengonfirmasi militer Israel telah mengintensifkan serangannya terhadap rumah sakit dan klinik di seluruh Gaza selama sepekan terakhir.
Setidaknya sepuluh fasilitas medis diserang, sehingga memaksa banyak layanan medis berhenti beroperasi. Hal ini mendorong sistem kesehatan di Gaza semakin dekat dengan kehancuran.
Dilansir Quds News Network, Minggu (25/5), serangan dimulai dengan gempuran besar terhadap Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, Gaza Selatan. Serangan itu menandai dimulainya operasi darat Israel yang diperluas, yakni “Operasi Kereta Perang Gideon.” Sejak saat itu, pusat-pusat medis di beberapa wilayah Gaza menjadi sasaran tembakan hebat.
Melampaui Titik Kritis
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat 28 serangan terpisah terhadap rumah sakit Gaza hanya dalam satu pekan, sekitar empat persen dari total serangan terhadap rumah sakit sejak genosida dimulai pada Oktober 2023.
Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, mengatakan sistem kesehatan di Gaza “melampaui titik kritis.” Ia mengonfirmasi hanya ada 19 dari 36 rumah sakit yang masih berfungsi sebagian. Mayoritas rumah sakit yang tersisa sangat penuh sesak dan kehabisan persediaan.
Kementerian Kesehatan melaporkan hampir 400.000 orang kini tidak memiliki akses ke perawatan medis apa pun. Pejabat Israel terus mengklaim mereka menyerang karena pejuang Hamas bersembunyi di dalam atau di bawah rumah sakit. Klaim tersebut digunakan sebagai pembenaran untuk serangan-serangan ini tanpa memberikan bukti.
Investigasi oleh banyak media seperti AP (Associated Press), The Washington Post, dan The New York Times, berulang kali mengatakan Israel gagal memberikan bukti adanya infrastruktur militer di banyak rumah sakit yang menjadi sasaran.
Panik total
Direktur Jenderal Kesehatan Gaza, Dr. Munir Al-Bursh, mengatakan kepada Physicians for Human Rights bahwa layanan medis telah “secara efektif menghilang” bagi ratusan ribu orang di Gaza.
Rumah Sakit Eropa mengalami sedikitnya dua serangan. Serangan pertama merusak sayap daruratnya, jalan akses, dan pipa air. Seperti kesaksian dari Dokter bedah Inggris Dr. Tom Potokar yang kini menjadi relawan di rumah sakit itu, ia mendengar ledakan hebat yang mengguncang gedung itu dan melemparnya dari tempat tidur.
“Orang-orang panik total. Asap memenuhi koridor, dan pipa air pecah,” katanya. Rumah sakit itu kemudian ditutup oleh kementerian kesehatan karena serangan udara yang terus-menerus berlanjut menyebabkan kerusakan parah pada sistem oksigen dan pembuangan limbah.
Menyerang Pusat Pengobatan Kanker
Di utara, hanya Rumah Sakit Al-Awda yang masih beroperasi, tetapi kini sudah terancam ditutup. Pekan lalu saat staf kembali, mereka mendapati rumah sakit tersebut telah dijarah dan dirusak. Kebakaran yang disebabkan Israel menghancurkan gudang pasokan medis rumah sakit tersebut. WHO mengatakan terdapat barang-barang penting seperti anestesi dan cairan infus yang hilang.
Situasinya sama suramnya di wilayah selatan Gaza. Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina yang fokus pada perawatan kanker, kini juga telah ditutup. Bersamaan dengan Rumah Sakit Eropa, rumah sakit ini merupakan salah satu dari dua pusat onkologi (pengobatan kanker) di Gaza. penutupannya membuat ribuan pasien kanker tidak memiliki pilihan pengobatan.
Rumah Sakit Nasser di Khan Younis kini menjadi satu-satunya pusat medis besar yang masih beroperasi di Selatan, dan kini rumah sakit tersebut kewalahan.
Menurut Medical Aid for Palestinians (MAP), banyak pasien yang tidur di lorong, ruang operasi bekerja tanpa henti, dan Ruang ICU yang awalnya dibangun untuk kapasitas 12 pasien kini menampung lebih dari 24 pasien.
Pekan lalu, pecahan peluru menghantam UGD Rumah Sakit Al-Amal, dan klinik Bulan Sabit Merah di Khan Younis rusak parah. Lantai pertama ambruk setelah serangan dan klinik terpaksa tutup.
Rumah Sakit Indonesia juga diserang. Buldoser dilaporkan memblokir akses dan menghancurkan gerbangnya. Laporan PBB mengatakan dua pasien terluka saat mencoba melarikan diri dari rumah sakit. Keesokan harinya, kebakaran terjadi di rumah sakit ini. menurut WHO, hanya 15 orang yang tersisa di dalam karena kondisi pengepungan.
Tangani 52 Pasien Semalam
Dr. Mohammad Saleha, direktur Rumah Sakit Al-Awda, mengatakan timnya merawat 52 pasien hanya dalam satu malam saja. Di antara mereka terdapat bayi yang kedua kakinya remuk.
“Kami menerima sembilan jenazah, tujuh di antaranya anak-anak. Setelah 19 bulan berada di neraka, saya dapat mengatakan satu hal: tidak seorang pun terbiasa melihat bayi tak berdosa terbunuh atau dimutilasi,” kata dia.
“Orang-orang ini tidak meninggal karena kita (tenaga medis) kurang keterampilan. Mereka meninggal karena kita tidak punya kebutuhan dasar-dasar.”
Israel melakukan Blokade bantuan sejak 2 Maret yang menahan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar. Lembaga-lembaga kemanusiaan mengatakan kondisi kelaparan menyebar di sana, dan penghancuran rumah sakit mempercepat runtuhnya kehidupan sipil di Gaza.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey