Kisah Menegangkan Aktivis Indonesia Lolos dari Penculikan Israel dalam Misi ke Gaza
Meskipun sudah ada antisipasi, lokasi tindakan yang dilakukan oleh Israel ternyata tidak sesuai dengan perkiraan para aktivis.
Salah satu aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) dari Indonesia, Maimon Herawati, menceritakan bagaimana ia berhasil selamat dari insiden pencegatan dan penculikan yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap kapal yang memiliki misi kemanusiaan. Maimon, yang juga menjabat sebagai anggota steering committee GSF, menjelaskan bahwa sejak awal ia dan timnya sudah menyadari risiko tinggi yang mereka hadapi, khususnya untuk kapal utama yang menjadi target pertama dalam operasi intersepsi.
"Jadi, kami itu naik kapal pertama, kapal induk, kapal Saf-Saf namanya. Kami sudah tahu kalau terjadi apa-apa, kapal inilah yang pertama diintersep," ujar Maimon di Marmaris, Turki, kepada jurnalis Liputan6.com.
Ia melanjutkan, perjalanan awal mereka dimulai dari Barcelona menuju Italia dengan menggunakan kapal Saf-Saf, sebelum akhirnya berlanjut ke Turki. Namun, rencana tersebut berubah ketika ia memutuskan untuk turun di Italia guna mempercepat koordinasi kedatangan delegasi Indonesia di Turki.
"Begitu sampai di Italia, seharusnya kami lanjut ke Turki dengan kapal Saf-Saf seperti Tiago Avila. Tapi karena harus mengurusi kedatangan tim Indonesia, kami turun dan naik pesawat. Jadi, kadarullah menghindarkan kami dari intercept dan penculikan itu," katanya.
Menurut Maimon, pencegatan yang dilakukan oleh Israel terjadi di luar perkiraan timnya. Sebelumnya, mereka telah menganalisis bahwa intersepsi diperkirakan akan terjadi saat kapal sudah mendekati wilayah Gaza.
"Kami memperkirakan intercept itu sekitar 170 nautical mile dari Gaza atau masih lima hari perjalanan lagi. Jadi, ini benar-benar out of the blue, kami semua kaget," ungkapnya. Tim GSF, lanjut Maimon, tidak menyangka bahwa Israel akan melakukan pengejaran sejauh itu di laut internasional. "Mereka sudah sampai sejauh itu untuk mencoba mengejar dan menculik teman-teman," tuturnya.
Dua Aktivis Masih Berada dalam Tahanan Israel
Terkait dengan dua aktivis GSF yang saat ini masih ditahan, yaitu Tiago dan Saif Abukeshek, Maimon menginformasikan bahwa keduanya sedang menjalani proses hukum dengan bantuan pengacara.
"Saif dan Tiago baru saja didampingi pengacara dalam proses pengadilan. Penjajah meminta perpanjangan penahanan empat hari, tetapi hakim hanya memberikan dua hari," ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa kondisi keduanya sangat memprihatinkan.
"Menurut pengacara, di sekujur tubuh Saif dan Tiago terdapat bekas-bekas penyiksaan," kata Maimon.
Sementara itu, mengenai kelanjutan misi pelayaran, Maimon menegaskan bahwa penundaan yang terjadi bukan disebabkan oleh insiden penculikan, melainkan oleh faktor cuaca buruk. "Tertundanya bukan karena penangkapan, tetapi karena badai. Kapal-kapal yang tidak dibajak berlindung di perairan Yunani untuk menunggu badai berlalu," jelasnya. Ia menambahkan bahwa para aktivis kini berkumpul di Marmaris untuk melakukan evaluasi sebelum menentukan langkah selanjutnya.
"Nanti kita akan assessment dari sisi keamanan dan politik, baru kemudian menentukan next step. Tapi persiapan tetap berjalan, termasuk pelatihan bagi peserta, ada juga enam orang dari Indonesia," terang Maimon.
Sebagaimana diketahui, GSF merupakan gerakan maritim terbesar yang dilakukan oleh masyarakat sipil untuk menembus blokade ilegal Israel di Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk Palestina. Dalam perjalanan menuju Gaza, konvoi kapal yang membawa bantuan kemanusiaan tersebut dicegat oleh Israel. Insiden terjadi di perairan internasional dekat Yunani pada 29 Mei 2026. Sebanyak 22 kapal Global Sumud Flotilla terdampak serangan Israel. Sementara itu, 178 aktivis sempat diculik, namun sebagian besar telah dilepaskan kembali.