Kelompok Paramiliter RSF Diduga Lakukan Genosida di Sudan, 2.000 Orang Tewas Dibunuh
Badan Kemanusiaan dari Universitas Yale, Amerika Serikat, mengemukakan dugaan mengenai adanya tindakan genosida.
Badan Kemanusiaan Universitas Yale di Amerika Serikat melaporkan adanya kekerasan besar-besaran dan dugaan genosida setelah kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) mengambil alih kota El-Fasher di Sudan barat. Dalam waktu 48 jam, lebih dari 2.000 warga sipil dilaporkan tewas, menurut kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan militer Sudan, yang menunjukkan salah satu peristiwa paling berdarah dalam konflik yang telah lama didera oleh kekejaman yang brutal.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan adanya laporan yang dapat dipercaya mengenai eksekusi sewenang-wenang, serangan terhadap warga sipil yang berusaha melarikan diri, penggerebekan dari rumah ke rumah, serta tindakan yang menghalangi warga untuk mencapai tempat aman. Kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan juga dilaporkan secara luas, sebagaimana dikutip dari laman France24 pada Jumat (31/10/2025).
Badan Kemanusiaan di Universitas Yale menemukan bukti yang menunjukkan adanya "pembunuhan massal sistematis". Citra satelit memperlihatkan bercak darah yang sangat besar hingga dapat terlihat dari luar angkasa. Temuan ini juga mencakup serangan terhadap fasilitas medis, tenaga kesehatan, pasien, dan pekerja kemanusiaan. Kelompok non-Arab, termasuk suku Fur, Zaghawa, dan Masalit, menjadi target utama dalam pembantaian ini.
PBB memperkirakan sekitar 177.000 warga sipil terjebak di dalam kota karena blokade sepanjang 56 kilometer yang diterapkan oleh RSF, yang menghalangi akses ke makanan, pasokan medis, dan jalur evakuasi. Di sisi lain, sekitar 26.000 orang berhasil melarikan diri dalam beberapa hari terakhir. Banyak dari mereka berjalan kaki menuju Tawila, yang terletak sekitar 60 kilometer sebelah barat El-Fasher, membawa cerita "mengerikan" mengenai pembunuhan yang bermotif etnis dan politik serta kekerasan yang terjadi tanpa pandang bulu, menurut laporan PBB.
Pertikaian yang Selalu Menghangat
Perebutan El-Fasher oleh RSF menandai dimulainya fase baru dalam konflik berkepanjangan di Sudan. Ketegangan kembali meningkat setelah penggulingan Presiden Omar al-Bashir, yang telah memerintah selama tiga dekade, pada tahun 2019. Konflik ini kemudian berkembang menjadi perang saudara pada April 2023 antara dua tokoh dominan: Panglima Militer Abdel Fattah al-Burhan dan mantan wakilnya,
Mohamed Hamdan Dagalo, yang merupakan pemimpin RSF. Pertempuran ini ditandai dengan tingkat kekerasan yang sangat ekstrem. Dalam waktu satu tahun sejak konflik dimulai, sekitar 150.000 nyawa telah melayang. Hingga Juli 2025, lebih dari 12 juta orang terpaksa mengungsi, sementara sejumlah wilayah negara terjebak dalam kelaparan yang parah. Kedua belah pihak dituduh melakukan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan menyerang warga sipil secara langsung.
Sebelum dikuasai oleh RSF, El-Fasher mengalami pengepungan selama 18 bulan, yang disertai dengan kelaparan, pemboman, dan serangan udara.
Menurut David Keen, seorang profesor studi konflik di London School of Economics (LSE), warga sipil di kota tersebut sudah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan: "Mereka lemah karena kelaparan, menderita serangan bom karpet dari pemerintah, serta pengepungan panjang oleh RSF."
Dugaan keterlibatan Uni Emirat Arab
Saat ini, militer Sudan menguasai sebagian besar wilayah utara dan timur, termasuk sebagian besar perbatasan dengan Mesir, yang diduga merupakan salah satu pendukung utama Burhan.
Mereka juga masih mempertahankan kontrol atas Port Sudan, yang menjadi markas pemerintahan yang diakui oleh PBB, serta sebagian wilayah Khartoum yang berhasil direbut kembali pada bulan Maret.
Di sisi lain, RSF menguasai hampir seluruh Darfur, termasuk El-Fasher, sebagian besar Kordofan, serta wilayah kecil di sepanjang perbatasan Sudan dengan Libya dan Mesir. Meskipun militer Sudan menuduh Uni Emirat Arab memberikan dukungan kepada RSF, pihak UEA membantah tuduhan tersebut.