Israel Akui Hanya Mampu Hancurkan Seperempat Terowongan Hamas di Gaza Selama 18 Bulan Perang
Israel melancarkan perang genosida terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023, membunuh lebih dari 50.000 warga.
Kendati Israel telah melancarkan serangan besar-besaran di Jalur Gaza, Palestina, sejak 7 Oktober 2023, mereka mengakui hanya sekitar seperempat dari jaringan terowongan Hamas di Jalur Gaza yang berhasil dihancurkan. Terowongan-terowongan tersebut menghubungkan Gaza dan Sinai Mesir, yang dibangun sejak pengepungan Gaza tahun 2007, memiliki peran penting dalam berbagai aktivitas, mulai dari penyelundupan senjata hingga reuni keluarga.
Menurut pejabat yang berbicara kepada media Israel Mako, meskipun lebih dari 18 bulan serangan gencar di Jalur Gaza, masih ada jaringan terowongan yang luas melalui wilayah tersebut, termasuk dari Mesir. Pejabat keamanan mengatakan telah terjadi pengurangan pertempuran tatap muka antara pejuang Palestina dan pasukan Israel, dengan kelompok-kelompok bersenjata menghilang ke dalam terowongan.
Pihak berwenang Mesir menghancurkan lebih dari 2.000 terowongan yang menghubungkan Sinai dan Gaza antara tahun 2011 dan 2015, dengan alasan masalah keamanan, seperti dikutip dari Middle East Eye, Kamis (10/4).
Jaringan terowongan ini terbukti menjadi faktor penting dalam mengurangi pertempuran langsung antara pejuang Palestina dan pasukan Israel. Para pejabat keamanan Israel menyatakan para pejuang Palestina memanfaatkan terowongan untuk menghindari konfrontasi langsung, sehingga mengubah dinamika pertempuran. Terowongan-terowongan ini tidak hanya digunakan untuk penyelundupan barang dan senjata, tetapi juga sebagai jalur rahasia untuk pergerakan pasukan dan komunikasi. Keberadaan jaringan terowongan yang masih signifikan ini menjadi tantangan besar bagi upaya Israel untuk mengamankan perbatasan.
Upaya Israel untuk menghancurkan terowongan Hamas telah mencakup perluasan zona penyangga di sepanjang perbatasan Gaza dan Mesir, termasuk Koridor Philadelphi. Namun, pembangunan terowongan terus berlanjut, menunjukkan keuletan dan kemampuan adaptasi Hamas dalam menghadapi tekanan militer.