Iran Ancam Tutup Selat Hormuz yang Jadi Jalur Pasokan Minyak Dunia, Dilalui 20 Juta Barel Minyak Setiap Hari
Iran kembali mengancam untuk menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan dari Israel.
Konflik militer antara Israel dan Iran terus berlanjut, memicu kekhawatiran global karena Teheran mengintensifkan ancaman untuk menutup Selat Hormuz. Esmail Kosari, seorang anggota komisi keamanan parlemen Iran, dilaporkan menyatakan kepada media lokal bahwa Teheran serius mempertimbangkan penutupan Selat Hormuz. Ini bukan kali pertama Iran mengeluarkan ancaman untuk menutup jalur tersebut sebagai bentuk balasan, yang bisa berdampak pada perdagangan global dan harga minyak.
Dengan meningkatnya kekhawatiran tentang kemungkinan perang besar dan penutupan Selat Hormuz, penting untuk memahami lebih dalam mengenai apa itu Selat Hormuz. Mengacu pada laporan dari First Post pada Selasa (17/6/2025), Selat Hormuz merupakan jalur air yang sempit namun sangat vital yang terletak antara Iran dan Oman. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia di utara dengan Teluk Oman di selatan, dan terus meluas hingga ke Laut Arab. Panjang Selat Hormuz mencapai hampir 161 kilometer dengan lebar 33 kilometer di titik tersemprit, dan jalur pelayarannya hanya selebar tiga kilometer di kedua arah.
Selat ini cukup dalam untuk dilalui oleh kapal tanker minyak mentah terbesar di dunia, dan digunakan oleh produsen minyak serta gas utama di kawasan Asia Barat, beserta pelanggan mereka. Setiap saat, puluhan kapal tanker dapat terlihat sedang menuju ke arah Selat Hormuz atau meninggalkannya.
Menurut hukum PBB, negara-negara memiliki hak kendali hingga 12 mil laut (sekitar 13,8 mil) dari garis pantai mereka. Ini berarti bahwa di titik tersemprit, selat dan jalur pelayarannya sepenuhnya berada dalam wilayah perairan teritorial Iran dan Oman.
Apa alasan pentingnya Selat Hormuz?
Jawaban yang ringkas dan sederhana untuk pertanyaan ini adalah minyak. Selat Hormuz menjadi jalur yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap harinya, termasuk pengiriman produk minyak. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa rata-rata aliran minyak melalui Selat Hormuz mencapai 21 juta barel per hari pada tahun 2022, yang mencakup sekitar 21 persen dari total perdagangan minyak mentah global. Selain itu, negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengandalkan selat ini untuk mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka, terutama ke pasar Asia.
Lebih lanjut, sepertiga dari total gas alam cair (LNG) dunia juga melewati jalur ini. Oleh karena itu, pentingnya Selat Hormuz tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan banyak yang menyebutnya sebagai jalur utama distribusi minyak global. Para ahli memperingatkan bahwa setiap gangguan, meskipun kecil, dapat berakibat signifikan terhadap kenaikan harga energi di seluruh dunia, meningkatkan biaya pengiriman, serta menyebabkan keterlambatan pasokan yang cukup besar. Bahkan, para ahli energi yang diwawancarai oleh Reuters menyatakan bahwa setiap blokade atau gangguan besar dapat mendorong harga minyak "jauh di atas $100 per barel".