Greenland Memanas, Warga Protes Keras Peresmian Gedung Baru Konsulat AS
Amerika Serikat mendirikan konsulat pertamanya di Nuuk, yang merupakan ibu kota Greenland, pada tahun 1940.
Greenland sedang memanas. Ratusan warganya turun ke jalan, protes peresmian gedung baru Konsulat Amerika Serikat (AS), Kamis (21/5).
Mereka meneriakkan seruan agar AS meninggalkan wilayah mereka. Menurut laporan The Guardian, para demonstran mengibarkan bendera Greenland sambil membawa poster bertuliskan "Naamik USA" yang berarti "Tidak untuk AS".
Selain itu, mereka juga meneriakkan "Greenland milik orang Greenland" di depan Gedung Parlemen Greenland.
"Sekarang, lebih dari sebelumnya, sangat penting untuk menunjukkan kepada rakyat AS bahwa kami sudah menyatakan penolakan, bahwa tidak berarti tidak, dan bahwa masa depan serta hak menentukan nasib sendiri Greenland berada di tangan rakyat Greenland," kata Aqqalukkuluk Fontain, pengorganisasi aksi protes.
Seperti yang dilansir oleh The Hill, Fontain menegaskan bahwa protes ini bukan bertujuan untuk memprovokasi Donald Trump atau Landry, tetapi untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Greenland memiliki demokrasinya sendiri.
Dia juga memperingatkan bahwa keterlibatan AS di Greenland adalah hal yang berbahaya, dengan pernyataan, "jika Greenland jatuh, dunia akan jatuh dan hal itu bisa memicu Perang Dunia III."
Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, beserta sejumlah politikus lainnya menolak undangan untuk menghadiri pembukaan konsulat tersebut. Christian Keldsen, kepala eksekutif Asosiasi Bisnis Greenland yang menyelenggarakan konferensi Future Greenland, mengungkapkan bahwa Landry tidak disambut dengan baik seperti yang diharapkannya.
"Tiga bulan lalu Greenland berada di bawah ancaman invasi dan pengambilalihan, dan dia (Landry) adalah salah satu orang yang mendukung pernyataan itu," ujar Keldsen. "Kini, tiga bulan kemudian, Anda datang ke sini untuk berteman, membagikan cokelat kepada anak-anak, serta topi MAGA."
Landry, yang meninggalkan Nuuk pada Rabu (20/5) malam, menyatakan kepada AFP bahwa saatnya bagi AS untuk kembali menancapkan jejaknya di Greenland.
"Greenland membutuhkan AS. Saya pikir Anda melihat presiden berbicara tentang peningkatan operasi keamanan nasional dan mengaktifkan kembali beberapa pangkalan di Greenland," katanya.
Politikus Partai Republik dari Louisiana ini sebelumnya mengemukakan bahwa Presiden Trump telah menempatkan Greenland di peta setelah menyerukan agar AS mencaplok pulau Arktik tersebut awal tahun ini.
Pernyataan itu memicu ketegangan yang meningkat, disertai dengan ancaman pengambilalihan wilayah Greenland secara militer. Situasi ini kemudian mendorong lahirnya sejumlah kesepakatan baru dengan Denmark, yang merupakan anggota NATO yang menaungi wilayah Greenland.