AS Habiskan Rp 16 Triliun Dalam Tiga Pekan Tapi Masih Gagal Jatuhkan Militer Yaman di Laut Merah
Serangan AS itu hanya berdampak kecil terhadap kemampuan Angkatan Bersenjata Yaman (YAF) yang dipimpin Ansarallah.
Amerika Serikat (AS) dilaporkan gagal melemahkan militer Yaman meskipun telah menghabiskan hampir USD 1 Miliar (Rp 16 Triliun) dalam tiga minggu. Bertolak belakang dengan klaim Presiden AS Donald Trump bahwa AS berhasil menghancurkan tentara Yaman.
Menurut sumber yang berbicara kepada CNN, pengeboman yang dilakukan militer AS di Yaman menghabiskan biaya hampir USD 1 Miliar (Rp 16 Triliun) dalam waktu kurang dari tiga pekan. Serangan tersebut hanya berdampak kecil terhadap kemampuan Angkatan Bersenjata Yaman (YAF) yang dipimpin Ansarallah.
Dikutip The Cradle, Senin (7/4) serangan AS mulai dilancarkan pada 15 Maret dengan mengandalkan amunisi presisi yang mahal, yakni rudal Tomahawk, JASSM, JSOW, pesawat pengebom B-2 dari Diego Garcia, serta kapal induk dan drone.
Meskipun demikian, YAF terus meluncurkan rudal balistik dan rudal jelajah, serta drone. Mereka menjatuhkan sedikitnya 17 drone canggih berjenis MQ-9 AS, masing-masing drone tersebut seharga Rp 480 Miliar.
Pejabat Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengakui meskipun beberapa lokasi militer dan kepemimpinan Yaman telah menjadi sasaran AS, negara tersebut masih memiliki persediaan senjata yang signifikan serta memiliki bunker yang dibentengi. Satu sumber mencatat Yaman masih mampu menyerang kapal-kapal di Laut Merah dan menghindari kerusakan.
Seperti dikutip beberapa sumber berita seperti CNN dan New York Times, Pentagon menyatakan hanya dalam waktu tiga pekan, mereka menggunakan amunisi senilai Rp 3.2 Triliun dan tidak termasuk biaya operasional dan personel untuk mengerahkan dua kapal induk, pesawat pengebom B-2 tambahan, dan jet tempur, serta sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD ke Timur Tengah.
“Mereka berhasil merebut beberapa lokasi, tetapi tidak memengaruhi kemampuan Houthi untuk terus menembaki kapal-kapal di Laut Merah atau menembak jatuh pesawat tak berawak AS,” ucap salah satu sumber yang diberi pengarahan tentang operasi tersebut.
“Sementara itu, kami sedang terburu-buru dalam hal kesiapan amunisi, bahan bakar, dan waktu pengerahan,” tambahnya.
Konflik Yaman dan AS
YAF mulai menargetkan kapal-kapal yang terhubung dengan Israel di Laut Merah pada November 2023 sebagai balasan atas genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza.
Setelah itu AS dan Inggris melancarkan operasi militer terhadap Yaman atas nama Israel.
Biaya operasi yang tinggi menimbulkan kekhawatiran di Kongres AS. Pentagon mungkin akan segera meminta dana tambahan untuk melanjutkan serangan tersebut.
Pada Jumat (4/4), juru bicara YAF Yahya Saree mengatakan Sanaa “menargetkan kapal induk AS USS Harry S. Truman dan kapal perang afiliasinya di Laut Merah, menggunakan beberapa rudal dan pesawat drone.”
Ia menekankan YAF tidak akan mengabaikan tugas moral, agama, dan kemanusiaannya terhadap rakyat Palestina.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey