Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) mengaku siap dalam persaingan di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Untuk itu, GAPMMI meminta pemerintah untuk mendorong pembangunan Pusat Logistik Berikat (PLB) guna memperkuat kualitas industri makanan dan minuman dalam negeri.
Ketua GAPMMI, Adhi Lukman menjelaskan pembangunan PLB bertujuan sebagai bentuk fasilitas pendukung bagi pelaku industri. Dimana, nantinya akan memudahkan pelaku usaha untuk membeli bahan baku.
"Nah, kita juga menginginkan hal tersebut. Bagi pelaku usaha perlu dukungan kemudahan. Dengan kawasan berikat maka fasilitas tersebut mampu dinikmati lebih banyak pelaku usaha," ujar dia di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (8/1).
Dia menilai keberadaan PLB mampu menekan biaya logistik yang saat ini sudah mencapai 27 persen. Biaya logistik tersebut jauh lebih mahal dibanding negara-negara di ASEAN.
"Singapura dan Malaysia mampu menekan biaya logistik hingga 15 persen. Jadi dengan adanya PLB maka akan memperbaiki biaya logistik yang ada di Indonesia," jelas dia.
Selain itu, kata Adhi, bahan baku juga menjadi tantangan bagi industri makanan dan minuman dalam negeri. Menurut dia, pasokan gula dan garam perlu solusi jangka panjang agar pelaku usaha mendapatkan kepastian, dan tidak dihadapkan pada isu pasokan setiap tahun.
"Pelaku usaha dan pemerintah perlu kerjsama membuat roadmap pemenuhan gula dan garam dalam negeri, dengan terus menyempurnakan aturan impor gula dan garam sebagai solusi jangka pendek," pungkas dia.