Survei: Lebih selektif belanja, daya beli masyarakat menengah atas masih positif

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membantah adanya penurunan daya beli masyarakat. Menurutnya, jika penurunan daya beli terjadi di kalangan masyarakat atas maka diyakini ada perubahan pola konsumsi. Di mana, masyarakat lebih suka menyimpan dan menginvestasikan uangnya ketimbang membelanjakannya.

Siti Nur Azzura
Oleh Siti Nur Azzura - Reporter
Survei: Lebih selektif belanja, daya beli masyarakat menengah atas masih positif
Ilustrasi menabung. ©2012 Merdeka.com/Shutterstock/Bevan Goldswain

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membantah adanya penurunan daya beli masyarakat. Menurutnya, Indonesia tengah mengalami anomali ekonomi karena tingkat inflasi tengah rendah namun daya beli turun.

Menurutnya, jika penurunan daya beli terjadi di kalangan masyarakat atas maka diyakini ada perubahan pola konsumsi. Di mana, masyarakat lebih suka menyimpan dan menginvestasikan uangnya ketimbang membelanjakannya.

"Tabungan di atas Rp 5 M naik, jumlah DPK juga naik. Artinya masyarakat atas yang memiliki daya beli menyimpan uangnya di bank," ujarnya.

Selain itu, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Suprajarto mengaku bahwa industri ritel tengah melemah saat ini. Salah satu alasannya adalah sikap masyarakat yang menahan daya belinya dan memilih untuk menyimpan uangnya.

"Menurut pengamatan saya, mungkin daya beli (masyarakat) agak ditahan karena mereka mau lihat kondisi ke depan seperti apa," kata Suprajarto di gedung BRI, Jakarta, Kamis (3/8).

Menurut hasil riset AC Nielsen seperti dikutip HaloMoney, kelas bawah dan kelas menengah ke bawah tertekan daya beli sehingga melakukan banyak strategi penghematan. Lalu, bagaimana dengan kelas menengah dan atas di Indonesia?

Pertumbuhan konsumsi kelas menengah, menurut hasil riset Nielsen, masih mencatat pertumbuhan positif. Dengan kata lain, kelas menengah masih mampu berbelanja di tengah situasi kenaikan harga dan peningkatan biaya hidup.

Ada pun kelas ekonomi di atas menengah (Upper Class) saat ini cenderung lebih rasional dalam berbelanja, lebih selektif dan bijak (wise spender) dan banyak memanfaatkan promo-promo belanja.

selama kurun waktu tiga tahun belakangan ini, pertumbuhan simpanan nasabah di bank terus meningkat. Di tahun 2015 tercatat total simpanan nasabah dalam bentuk tabungan mencapai Rp 1.102,3 triliun.

Sementara di tahun 2017 simpanan nasabah semakin meningkat mencapai Rp 1.355,11 triliun. Di mana sebanyak 36 persen porsi tabungan di bank berasal dari kelas atas, sedangkan 27 persen berasal dari kelas menengah.

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sampai akhir Agustus 2017, jumlah rekening simpanan di bank juga meningkat 2,07 persen dibandingkan jumlah rekening bulan sebelumnya, menjadi 227,06 juta rekening simpanan.

Khusus untuk simpanan dengan saldo hingga Rp 2 miliar, jumlah rekeningnya meningkat mejadi 226,82 juta rekening bersaldo kakap. Naik dari bulan sebelumnya yang baru berkisar 222,21 juta rekening. Bukan cuma itu, nominal simpanan pun naik dari semula Rp 2.209,66 triliun menjadi Rp 2.214,1 triliun pada akhir Agustus 2017.

Ada pun untuk simpanan dengan nilai saldo di atas Rp 2 miliar, jumlah rekeningnya juga naik 0,65 persen month-on-month menjadi 246.511 rekening. Begitu pula nilai simpanannya meningkat dari Rp 2.928,13 triliun.

Lalu bagaimana dari sisi investasi?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus rekor angka psikologis 6.000 pada akhir Oktober lalu. Bahkan pada Rabu (1/11), IHSG berhasil mencetak rekor baru tertinggi sepanjang sejarah di posisi 6.038,15. Yang menarik, rekor ini terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing senilai Rp 1,12 triliun.

Berdasarkan data rekapitulasi nilai perdagangan di bursa saham berdasarkan tipe investor milik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada tahun 2017 ini kontribusi investor domestik naik menjadi 63,4 persen.

Tahun sebelumnya, kontribusi domestik mencapai 63.11 persen. Bahkan selama rentang 2012-2015, kontribusi investor domestik dalam perdagangan saham masih di bawah 60 persen.

Nilai subscription atau pembelian unit penyertaan reksadana tahun hingga akhir Agustus 2017, mencapai Rp 291,03 triliun. Angka ini berpotensi terus meningkat sampai akhir tahun nanti.

Tercatat, nilai pembelian reksadana pada 2016 mencapai Rp 350,65 triliun. Bandingkan dengan nilai pembelian pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2015 sebesar Rp 254,34 triliun. Tahun 2014 nilainya bahkan masih di kisaran Rp 181,58 triliun.

Dengan adanya penelitian ini, bisa disimpulkan bahwa kelas menengah atas relatif tidak mengalami tekanan daya beli yang seberat dirasakan kelas bawah. Namun, mereka cenderung lebih selektif dalam berbelanja dan menambah porsi penghasilan mereka untuk disimpan, apakah itu ditabung di simpanan perbankan atau dialihkan menjadi investasi di pasar modal.

Rekomendasi