Pemerintah mengaku siap mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia. Itu diperlihatkan dengan adanya pembangunan PLTN berkapasitas 10 megawatt hingga 20 megawatt di Serpong, Tangerang Selatan.
Selain itu, pemerintah juga memiliki roadmap pengembangan nuklir. Targetnya, pembangunan PLTN berkapasitas 5 ribu megawatt pada 2022.
Sayangnya, pengembangan PLTN masih terkendala ketakutan masyarakat akan bahaya nuklir.
"Masyarakat belum bisa menerima adanya nuklir. Cepat atau lambat, kalau semata-mata pembangkit hanya dari batu bara dan gas tidak akan cukup," kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman saat diskusi mingguan dihelat merdeka.com, Radio Republik Indonesia, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Institut Komunikasi Nasional (IKN), dan PT Sewatama bertajuk "Energi Kita: Menagih Janji Terang di Perbatasan", di Jakarta, Minggu (10/5).
Menurut Jarman, nuklir sejatinya mampu mengatasi kebutuhan energi masyarakat Indonesia. Ini lantaran, kapasitas yang dihasilkan sangat besar, hampir mencapai 5 ribu megawatt.
Selain itu, nuklir adalah energi bersih, bebas emisi karbon.
"Tetapi nuklir tidak bisa dibangun sembarang tempat. Hanya bisa di Kalimantan dan Bangka. Nuklir itu bisa kejar kapasitas besar. Sekarang kami edukasi masyarakat."