Pemerintah Jokowi terus mewaspadai pemulihan ekonomi yang sudah mulai terlihat dan terjadi di Indonesia. Berbagai dinamika global maupun domestik tetap menjadi perhatian pemerintah tahun ini.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kebijakan yang diambil pemerintah Amerika Serikat (AS) bisa turut berdampak kepada Indonesia. Sebab negeri Paman Sam tersebut telah menggelontorkan USD1,9 triliun sebagai stimulus yang bisa mendorong perekonomian mereka.
"Di sisi lain juga melihat situasi dimana pasar keuangan ada anxiety respon terutama terkait dengan inflasi, dan bagaiman US treasyry yield yang sudah naik 35 persen," katanya dalam acara Fitch Indonesia Conference 2021 dengan tema : Fitch on Indonesia - Navigating a Pots-Pandemic World?, Rabu (24/3).
Dia mengatakan, aliran modal keluar juga bisa berdampak pada kecepatan pemulihan ekonomi nasional. Namun begitu, saat ini defisit transaksi berjalan masih tetap terjaga didukung oleh surplus neraca perdangan USD1,96 miliar di Februari kemarin.
"Ada dua sisi pisau yang melihat ekspor dan impor tertama impor capital good adalah faktor yang akan memberi dampak pada kecepatan perbaikan ekonomi Indonesia. Neraca perdagangan sudah mulai suprlus, tapi kita sedang berupaya menarik investasi," ungkapnya.
Selain itu, pemerintah menilai bahwa rasio utang terhadap PDB Indonesia di kisaran 38 persen masih relatif rendah namun harus tetap dijaga. Di sisi lain, beberapa isu fundamental juga tetap menjadi perhatian dalam upaya mendorong pemulihan ekonomi.
"Ada beberapa isu fundamental yang harus diperhatikan, yakni termasuk didalamnya reformasi struktural, pendidikan dan kesehatan, jaring pengaman sosial, kemudian infrastruktur dan birokrasi serta iklim investasi yang perlu dlihat di 2021 sebagai sebuah optimisime namun tetap waspada," jelas dia.