Filantropi Indonesia menyelenggarakan Filantropi Indonesia Festival 2018 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) pada 15-17 November. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Bambang Brodjonegoro, hadir membuka acara ini mewakili Presiden Joko Widodo.
Dalam kata sambutannya, Menteri Bambang menyampaikan bahwa kegiatan filantropi yang artinya berbagi kedermawanan tak harus dilakukan oleh orang yang berlebih secara harta saja.
"Selama ini filantropi mungkin cenderung identik dengan orang kaya. Padahal sebenarnya ini lebih kepada suatu ketulusan niat. Ini yang rupanya yang salah ditanggapi oleh sebagian besar masyarakat kita," ucap dia di Cendrawasih Hall, JCC, Jakarta, Kamis (15/11).
Meski begitu, dia bersyukur lantaran saat ini telah ada yang namanya program Sustainable Development Goals (SDGs) yang kerap digaungkannya. SDGs sendiri merupakan suatu bentuk kesepakatan pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup.
"Jadi selain bicara tujuan kelanjutan pembangunan yang jadi mainstream di agenda perekonomian dunia, filantropi Indonesia pada saat yang sama membuka ruang bagi partisipasi siapa saja yang mau memberi dan membantu lewat kegiatan filantropis," tuturnya.
Dia turut mengutip laporan The World Giving Index yang menempatkan Indonesia berada di peringkat pertama negara paling dermawan di dunia. Menurutnya, hal tersebut seolah menunjukkan bahwa toleransi tak harus diukur lewat tingkat kekayaan harta suatu bangsa.
"Indonesia ada di negara nomor satu dari berbagai negara yang pendapatan per kapitanya jauh di atas Indonesia. Ini mematahkan mitos, yang bilang kalau jadi filantropi harus banyak orang kaya. Kedermawanan hati untuk bantu sesamanya, ini yang jadi modal luar biasa," ujar dia.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com