Survei Price Waterhouse Coopers (PwC) terhadap 800 CEO perusahaan yang berlokasi di Asia Pasifik menempatkan Indonesia di posisi kedua terbaik setelah China. Posisi Indonesia dalam survei itu mengungguli Singapura yang dikenal sebagai salah satu negara penghubung perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasifik.
Singapura hanya memperoleh 46 persen responden CEO yang menyatakan akan meningkatkan investasinya selama 12 bulan kedepan. Sementara Indonesia, memperoleh 52 persen responden, selisih 1 persen dari China yang memperoleh 53 persen responden.
Menanggapi hal ini, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Franky Sibarani menilai positif hasil survei tersebut. Menurut dia, hal itu menunjukkan para CEO negara anggota APEC masih percaya iklim investasi di Indonesia yang semakin kondusif. Keyakinan para CEO tersebut cukup signifikan, kata dia, mengingat aliran modal asing yang masuk ke Asia Pasifik sudah cukup tinggi.
"Jadi salah satu keterangan di survei tersebut menyebut bahwa sebenarnya wajar apabila tahun ini terjadi penurunan mengingat arus masuk PMA ke Asia-Pasifik mencatat angka tertinggi tahun lalu," kata Franky di sela-sela KTT APEC, Manila, Filipina, Kamis (18/11).
Dalam survei itu disebut 68 persen investasi baru akan dikucurkan di wilayah APEC dan 32 persen lainnya ke wilayah lain di dunia. Franky menjelaskan, capaian Indonesia dalam survei tersebut akan menjadi modal bagi pemerintah untuk meningkatkan aliran investasi yang masuk ke Indonesia.
Realisasi investasi negara-negara yang tergabung dalam Asia-Pasifik Economic Cooperation (APEC) mendominasi arus investasi yang masuk ke Indonesia. Dalam 5 tahun terakhir dari data BKPM, 20 negara teratas anggota ekonomi APEC berkontribusi hingga 77,5 persen dengan nilai mencapai USD 76 miliar.
"Dari tahun ke tahun, tren realisasi investasi dari negara APEC juga menunjukkan hal yang positif," imbuh Franky.
Posisi realisasi investasi negara APEC di 2010 mencapai USD 9,2 miliar meningkat menjadi USD 10,5 miliar di 2011, kemudian kembali meningkat menjadi USD 16,1 miliar di 2013 dan USD 15,1 miliar di 2014.
"Posisi 2015 hingga September mencapai USD 11,9 miliar," pungkas Franky.