Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan kebijakan baru untuk mengurangi jumlah pengangguran yang terus bertambah di negaranya. Erdogan mewajibkan setiap perusahaan swasta di negaranya merekrut minimal satu orang pengangguran.
Organisasi perusahaan swasta Turki, Union of Chambers and Commodity Exchanges of Turkey (TOBB) mencatat setidaknya ada 1,5 juta perusahaan yang menjadi anggotanya. Erdogan menegaskan, jika satu perusahaan merekrut satu orang saja maka akan ada 1,5 juta lowongan kerja baru.
"Jika setiap anggota mengambil satu orang, itu berarti ada 1,5 juta orang menganggur yang akan bekerja," ucap Erdogan seperti dikutip dari Theguardian, Senin (9/5).
"Mari kita memberi pekerjaan kepada mereka yang tidak memiliki apa-apa. Apakah dengan cara ini akan membuat perusahaan rugi" Tidak, ini akan menguntungkan, sesederhana itu," sambung Erdogan.
Erdogan sudah sering mengeluarkan kebijakan untuk menyelamatkan ekonominya. Terakhir, dia meminta kepada bank sentral Turki untuk menurunkan suku bunga acuan meski sangat berisiko akan mendongkrak angka inflasi.
Pertumbuhan ekonomi Turki telah anjlok sejak 2012 silam dan melambat 4 persen pada 2015 silam. Tingginya pengeluaran pemerintah telah memperbesar defisit anggaran dan angka pengangguran naik hingga menjadi lebih 10 persen.
Negara ini telah diguncang serangkaian serang bom yang dikaitkan dengan aksi ISIS. Aksi pengemboman ini kemudian menghantam pendapatan negara dari sektor pariwisata.
Meski demikian, lembaga pemeringkat Standard and Poor's menaikkan peringkat utang Turki mejadi stabil, meski negara tersebut diselimuti ketidakpastian politik yang mungkin mempengaruhi perekonomian.