Indonesia kembali berduka. Salah satu monster laut penjaga NKRI berpatroli selamanya. Kapal selam KRI Nanggala 402 dinyatakan tenggelam.
Peristiwa itu menjadi perhatian dunia serta memunculkan beragam pertanyaan mengenai penyebab kecelakaan tersebut.
Disebutkan oleh Asrena Kasal Laksamana Muda Muhammad Ali, faktor alam saat hendak masuk ke dalaman dan terbawa arus bawah laut menjadi penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402.
Pernah mengalaminya, Danseskoal Laksamana Muda Iwan Isnurwanto lantas menceritakan pengalamannya.
Melansir Kompas yang diunggah akun Instagram infokomando, Jumat (30/4), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
Iwan mengungkapkan pernah mengalami insiden saat berada di KRI Nanggala. Iwan menceritakan bagaimana dirinya saat bertugas mengalami kondisi Blackout.
"Saya pernah mengalami hal yang serupa namanya blackout. Ada beberapa macam penyebab tapi yang pernah saya alami adalah itu jam 12 malam blackout," ungkapnya.
Advertisement
Iwan menjelaskan kondisi kapal saat itu sudah mengalami kemiringan sekitar 45 derajat. Bukan hanya itu, karena tidak ada tegangan sama sekali maka hanya lampu emergency saja yang menyala. Bahkan, dalam kurun waktu tidak sampai 10 detik, kapal selam terjun ke dalam bawah air hingga 90 meter.
"Saya sedang istirahat di lantai 3, saya langsung lompat. Saat itu posisinya andai kata adalah ini depan haluan, (bagian belakang) ini buritan maka saat blackout itu berarti tidak ada tegangan. Sama sekali tidak ada tegangan, semua mati dan hanya lampu emergency yang menyala di dalamnya," kata Danseskoal."Posisinya adalah yang belakang ini (buritan) langsung turun, ini (kemiringan) kurang lebih 45 derajat bisa lebih. Langsung wuss (terjun ke bawah), tidak sampai dengan 10 detik itu sampai dengan 90 meter. Sehingga bisa membayangkan bagaimana posisi blackout saat itu, padahal kita periskopdep," jelasnya.
Advertisement
Melihat hal itu, komandan kapal saat itu langsung memerintahkan semuanya untuk pindah ke bagian depan kapal. Akan tetapi, mereka semua harus merangkak dan berpegangan dengan pintu. Sebab, kemiringan kapal selam telah mencapai 45 derajat atau lebih.
"Kemudian saat itu karena maaf bahasa saat itu masih ada Bahasa Jerman, sehingga komandan kapal KKM itu memerintahkan kita semuanya berangkat ke depan (haluan). Tapi karena (kemiringan) 45 derajat ini, maka kita merangkak. Jadi lorong itu, kita merangkak ini mohon maaf saya masih merinding semua karena saya pernah mengalaminya. Merangkak, pegang pintu-pintu itu sampai ke depan," sambungnya.
Advertisement
Disebutkan oleh Asrena Kasal Laksamana Muda Muhammad Ali, faktor alam saat hendak masuk ke dalaman dan terbawa arus bawah laut menjadi penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402."Faktor alam, ini tentunya pada saat kapal selam di permukaan mungkin hampir sama dengan faktor alam yang dialami kapal atas air. Saat kapal selam menyelam, mungkin yang paling berpengaruh adalah faktor arus bawah laut," kata Ali saat konferensi pers di Mabes AL, Cilangkap, Jakarta Timur (Jaktim), Selasa (27/4).
Namun Ali mengatakan, setiap laut memiliki kondisi arus bawah laut yang berbeda-beda. Untuk itu guna mempersiapkan ketika hendak berlayar, para awak kapal turut dibekali buku panduan untuk memahami kondisi perairan yang akan diarungi. Baik dari faktor oceanografi maupun hidrografinya. Selain tekanan arus bawah laut, Ali menambahkan ada pula faktor alam lain arus bawah laut yang mempunyai tekanan kuat. Bahkan mampu menarik secara vertikal yaitu internal solitary wave."Faktor alam ini juga ada yang dinamakan internal solitary wave ini juga berdasarkan pakar ahli oceanografi bahwa ada arus laut yang sangat kuat dari bawah itu di luar pada umumnya, yang bisa menarik vertikal. Ini yang harus diwaspadai," terangnya.