Politisi PDIP sebut kasus Setnov ibarat imam kentut saat salat

"Tidak semua harus pakai azas praduga tak bersalah soal kentut itu tadi, kentut itu soal kejantanan," kata Hasanuddin.

Dieqy Hasbi Widhana
Oleh Dieqy Hasbi Widhana - Reporter
Politisi PDIP sebut kasus Setnov ibarat imam kentut saat salat
Komisi I DPR RI datangi KPK. ©2013 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Politikus PDIP Tubagus Hasanuddin menganalogikan kasus dugaan pemalakan PT Freeport oleh Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) dengan kentut. Menurutnya, ketika seorang imam dalam salat berjamaah merasa najis, maka dengan kesadaran harus mengundurkan diri. "Saya orang muslim, ketika saya sebagai imam, ketika saya kentut ya sudah saya mungkin akan ke belakang ambil air wudhu lah, biar salah satu dari depan itu maju untuk menjadi imam," kata Hasanuddin di Kompleks Parlemen DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (27/11). ‎Namun menurut Hasanuddin, jika memang seseorang benar-benar merasa tak bersalah, dia harus membela diri. "Tidak semua harus pakai azas praduga tak bersalah soal kentut itu tadi, kentut itu soal kejantanan, soal perasaan. Saya sudah kentut, hati nurani saja. Pantaskah seseorang seperti saya menemui pengusaha, apa tugasnya. Debatable juga," terangnya. Hasanuddin juga mengingatkan agar Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) bekerja dengan serius dan berhati-hati. Sebab isu pencatutan nama Presiden Jokowi tersebut dipantau oleh publik.‎"Tapi let see lah karena ini sudah berupa undang-undang dalam hal ini MKD, ya saya berharap siapapun termasuk dari fraksi saya, ya saya berharap ya lurus-lurus sajalah. Karena akan disorot oleh sekian juta mata rakyat dan akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah," pungkasnya.

Rekomendasi