Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau umat agar menggunakan energinya untuk menggerakkan dan memakmurkan masjid selama bulan suci Ramadan. Hampir setahun, menurutnya, banyak energi terserap untuk agenda dan kegiatan-kegiatan politik.
"Sekarang gunakan energi politik itu untuk menggerakkan dan memakmurkan masjid," kata Haedar Nashir dalam Tablig Akbar di Masjid AR Fachrudin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (2/4) malam.
Haedar menyebut tokoh dan mubalig Muhammadiyah harus bisa mencerahkan lewat ceramah-ceramahnya. Selama Ramadan harus merekatkan kembali persaudaraan di masyarakat.
Dia tidak sependapat dengan sikap yang menganggap politik sebagai jalan perjuangan penghabisan. Karena semua harus ditempuh sesuai dengan mekanisme yang sudah disepakati.
"Kalau mau jor-joran seperti itu, jangan sampai seperti di Baratayudha perang Kurukshetra, baik yang Amarta maupun Hastinapura sama-sama hancur. Yang senang siapa? Sengkuni, sengkuni dalam negeri maupun sengkuni mancanegara," katanya.
Selain itu, Haedar menyarankan agar peserta pemilu memakai jalur konstitusional jika menemukan dugaan pelanggaran dan kecurangan. Semua peserta pemilu, lanjutnya, juga harus bersabar menunggu pengumuman resmi hasil penghitungan suara dari KPU pada 22 Mei mendatang.
"Apabila ada perselisihan, perbedaan dan apa yang dianggap kesalahan, mungkin juga kecurangan maka selesaikan juga dalam jalur konstitusi. Bawa ke Bawaslu sampai ke MK, karena itulah yang diberikan konstitusi yang semua partai politik, juga kan mengeluarkan legislatif tentang itu, sehingga harus menaatinya. Karena tidak jalan lain selain jalan konstitusional," jelasnya.
Pemilu 2019, kata Haedar, merupakan pemilu kelima di era reformasi. Sehingga masyarakat dan elit harus semakin matang, dewasa dan mengedepankan keadaban dalam politik dan berdemokrasi.
"Terlalu mahal kalau pemilu yang sudah berjalan berkali-kali kita korbankan, hanya karena kita tidak puas dalam proses tertentu. Ketidakpuasan salurkan lewat jalur konstitusi," tegasnya.
Dia juga menyadari pilpres telah membelah masyarakat pada dua pilihan. Pihaknya berharap kondisi ini tidak berlarut ke depannya. Untuk itu, Haedar mengingatkan kepada kedua kubu pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga agar segera berekonsiliasi.
"Rekonsiliasi secara sosial, di mana masyarakat guyub kembali dan itu kebudayaan bangsa Indonesia. Rekonsiliasi politik, yang menang jangan jumawa, jangan euforia. Tapi yang kalah jangan marah dan kemudian tidak menerima realitas, satu sama lain harus rekonsiliasi politik," jelasnya.
Terakhir, dia meminta warga Muhammadiyah harus menjadi contoh dalam menyikapi hasil Pemilu, apalagi jelang Ramadan. Semua itu harus dimanfaatkan untuk menciptakan persatuan, suasana damai, gembira dan kembali menjalani kegiatan produktif.
"Karena bangsa Indonesia ini juga tantangannya besar," tutup Haedar.