Golkar jadikan survei LSI Denny JA cambuk tingkatkan elektabilitas

Golkar jadikan survei LSI Denny JA cambuk tingkatkan elektabilitas. Golkar masih memiliki waktu 6 bulan lebih untuk memperbaiki survei tersebut.

Intan Umbari Prihatin
Oleh Intan Umbari Prihatin - Reporter
Golkar jadikan survei LSI Denny JA cambuk tingkatkan elektabilitas
Sekjen Partai Golkar Lodewijk Freidrich Paulus. ©2018 Merdeka.com

Sekjen Partai Golkar Lodewijk Freidrich Paulus menanggapi posisi Golkar yang melorot di posisi ketiga hasil survei Lingkaran Survei Indonesia Denny JA terkait elektabilitas jelang Pemilihan Umum 2019 mendatang. Dia mengatakan, hasil tersebut jadi cambukan agar terus meningkatkan elektabilitas.

"Artinya maka kita harapkan ini jadi cambuk kita gimana perolehan kita tidak menurun tapi meningkat. Tentunya ini butuh peran Anda semua," kata Lodewijk di hadapan para kader di acara workshop kampanye dan Bimtek Sidakam Pemilu 2019 di Hotel Bidakara, Kamis (13/9).

Hasil survei tersebut menunjukan Partai Golkar bertengger di urutan ketiga dengan peroleh suara 11,3 persen. Karena itu, menurut Lodewijk, hasil survei tersebut jadi pecutan.

"Sebagai pecut. Jangan jumawa," kata Lodewijk.

Golkar, kata dia, masih memiliki waktu 6 bulan lebih untuk memperbaiki survei tersebut. Dia yakin kekuatan partainya bukan dari hasil survei. Melainkan dari jaringan yang dimiliki.

Senada dengan Lodewijk, Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily menjelaskan hasil tersebut memecut untuk lebih giat menaikan elektabilitas.

"Saya kira masih ada waktu sampai April kita akan kerja keras. Salah satunya kita mengadakan acara ini sebagai bagian konsolidasi partai efek kita mesin partai untuk memenangkan Pileg 2019 nanti," ungkap Ace.

Sebelumnya diketahui Lingkaran Survei Indonesia Denny JA merilis elektabilitas partai jelang Pemilihan Umum 2019 mendatang. Hasilnya, jika pemilu dilaksanakan hari ini, PDI Perjuangan unggul dengan perolehan suara 24,8 persen disusul Partai Gerindra 13,1 persen. Sedangkan Partai Golkar, hanya mampu bertengger di urutan ketiga dengan peroleh suara 11,3 persen. Tiga alasan menjadi faktor partai Orde Baru itu tidak bisa menembus posisi dua besar.

"Warisan kasus mantan Ketua Umum Setya Novanto. Lalu ada kasus baru yang melibatkan internal Golkar juga (dugaan korupsi oleh Idrus Marham) sehingga menyebabkan elektabilitas Golkar di bawah 15 persen," kata Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby di Graha Rajawali, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (12/9).

Rekomendasi