Ancam buang KTP bentuk kemarahan relawan jika Ahok maju lewat partai

"Yang pasti sampai hari ini kita masih yakin lewat jalur perseorangan. Kita harus optimis," kata Putu Artha.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Ancam buang KTP bentuk kemarahan relawan jika Ahok maju lewat partai
Ahok bersaksi di sidang korupsi UPS. ©2016 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Meski Pilgub DKI masih tahun depan, suhu perpolitikan di Jakarta sudah terasa semakin panas. Apalagi setelah Basuki Tjahaja Purnama menyatakan kembali maju lewat jalur perseorangan.Ahok, sapaan Basuki, dibantu relawan yang menamakan dirinya Teman Ahok. Teman Ahok bertugas mengumpulkan KTP warga DKI sebagai bentuk dukungan.Pada acara Teman Ahok fair, beberapa waktu lalu, total KTP yang telah dikumpulkan mencapai 900 ribu. Namun anehnya, setelah acara itu, Ahok seperti galau apakah tetap maju dari jalur independen bersama cawagub Heru Budi Hartono, atau kembalikan ke 'pelukan' partai. Sebab di beberapa kesempatan dirinya menyatakan masih berhasrat Djarot Saiful Hidayat bisa mendampinginya di pilgub nanti.Kegelisahan Ahok yang sempat terekam dalam sejumlah pemberitaan, rupanya diketahui relawan Teman Ahok. Lalu apa reaksi mereka?"Iya kita baca," kata I Gusti Putu Artha, yang ditunjuk sebagai pendamping ahli Teman Ahok, saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (13/6).Diakuinya, suara penolakan Ahok maju dari partai tetap saja ada. Diceritakannya, di salah satu grup Whatsapp (WA) relawan Ahok yang terhubung dengannya, salah satu pendukung yang marah sekali jika Ahok maju dari partai. Saking mengancam akan buang KTP dukungan."Jadi di WA-ku itu ada tujuh grup pendukung Ahok. Nah di salah satu grup itu ada pendukung Ahok yang marah kalau enggak maju perorangan. Dia ancam akan buang KTP di tangan gue," beber mantan Komisioner KPU ini."Tapi ini hanya ancaman satu orang saja. Tidak adalah itu sampai buang KTP. Intinya tipikal orang ini memang antipartai," sambungnya.Sejauh ini, kata dia, relawan Teman Ahok tidak mau terlalu berlarut dengan berbagai pernyataan itu. Meksi tetap saja ada rasa ketidakrelaan jika itu benar terjadi."Ya pastilah enggak rela, tapi ini kan belum ada pembicaraan serius. Yang pasti sampai hari ini kita masih yakin lewat jalur perseorangan. Kita harus optimis," tegasnya.

Rekomendasi