Muhammad Yahya (54) dan menantunya, Ahmad Solehan (25), dibikin gigit jari. Gara-gara memarkir mobil di pinggir Jalan AM Sangaji dan lalu ketiduran, uang Rp 11 juta raib.
Keterangan diperoleh, Yahya dan menantunya yang tinggal di Tapin, Kalimantan Selatan baru saja melakukan perjalanan jauh dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Setiap harinya, mereka memang mengangkut sayur dan rempah-rempah dengan tujuan pasar tradisional di Kalimantan Timur seperti di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), di Loa Janan, hingga pasar Segiri di Samarinda.
Angkutan rempah-rempah beres diantar dan dibongkar di pasar-pasar di PPU dan Loa Janan. Mobil pikap bernomor polisi DA 9435 TD yang dikemudikan Yahya kemudian beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Tapin, Kalsel.
"Setelah giliran di Pasar Segiri, bongkar muatan, kami istirahat di dalam mobil karena lelah. Rencananya di pasar Segiri ini kami drop pagi tadi," kata Yahya saat membuat laporan di Polsek Sungai Pinang, Jalan DI Panjaitan, Senin (1/4) siang.
Saat tidur, tas berisi uang diletakkan di antara 2 kursi kemudi dan penumpang depan. "Sekitar jam 3 pagi tadi, menantu saya (Ahmad) merasa ada yang mengambil barang di tengah-tengah kursi," ujar Yahya.
"Ahmad terbangun, cek tidak ada orang. Begitu kembali ke dalam mobil, tas sudah enggak ada. Dicari sana sini, juga enggak ada. Yang kita lihat cuma sepasang sendal jepit di bawah pintu dekat setir," terang Yahya.
Maling itu ditengarai masuk melalui kaca mobil, yang memang terbuka separuh. "Saya perkirakan, orang (maling) ini, ambil tas dari sisi kiri pintu mobil. Uang Rp 11 juta hasil tagihan angkutan muatan dalam tas hilang. Juga ada surat-surat penting. Habis laporan ini, saya mau pulang ke Banjarmasin," jelas Yahya.
Kapolsek Sungai Pinang Kompol Nono Rusmana membenarkan peristiwa itu. Namun demikian, dia belum bisa bicara panjang lebar. "Saat ini, kami masih meminta keterangan korban, dan juga para saksi," terangnya.
Advertisement