Wilayah pegunungan di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh hingga kini masih terselimuti abu vulkanik Gunung Sinabung. Warga di sana mengeluhkan adanya kabut dan hujan abu.
"Kabut betul sini (Aceh Tenggara), hujan abu (vulkanik) sini. Informasinya, lebih parah lagi di sini, di banding wilayah Aceh yang lain," terang Sumur Raden (37), warga Desa Perapat Sepakat, Babussalam, Kutacane, Rabu (21/2). Dikutip dari Antara.
Kondisi tersebut diperparah dengan embusan angin berada di udara yang mengarah ke wilayah Aceh, terutama Aceh Tenggara dalam tiga hari terakhir ini.
Belum lagi daerah itu berbatasan dengan Kabupaten Karo, sehingga jarak yang begitu dekat dengan lokasi erupsi Gunung Sinabung hanya sekitar 150 kilometer.
Sementara matahari, belum menyinari wilayah pertanian ini dengan komoditas unggulan yakni tanaman jagung. "Macam (seperti) gelap di sini, bahkan lebih parah lagi Lhokseumawe. Cahaya matahari sampai hari ini, tidak tampak," terang dia.
Aldi (31), penduduk lain di Aceh Tenggara mengaku, warga setempat yang mayoritas berprofesi sebagai petani sudah mulai ke luar rumah untuk mengurus lahan pertaniannya.
"Mereka (petani), sudah mulai turun hari ini ke sawah. Ada yang masih kenakan masker, tapi lebih banyak yang tidak," tuturnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemarin menyebut, material abu vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, telah menutupi langit di Wilayah Aceh.
"Dari citra satelit jelas terlihat, pergerakan debu vulkanik menutupi Aceh secara merata," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Blangbintang, Aceh, Zakaria.
Ia mengatakan, dampak dari erupsi Gunung Sinabung mulai terjadi sejak Senin, (19/2), dan terbawa angin yang mengarah ke wilayah Tenggara dan Barat-Selatan di provinsi paling ujung Utara di Sumatera ini.