Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mencatat terjadi 143 bencana di wilayah itu sepanjang 2017 ini. Bencana itu menyebabkan 19 korban jiwa meninggal dunia dan belasan lainnya mengalami luka.
Plt Kepala BPBD Sumsel, Iriansyah, mengungkapkan bencana tersebut antara lain tanah longsor, puting beliung, kebakaran, banjir, dan kecelakaan laut.
"Untuk kejadian yang paling banyak memakan korban jiwa akibat bencana tanah longsor, seperti terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) di mana satu keluarga tewas tertimbun," kata Iriansyah, Jumat (1/12).
Meski demikian, jumlah bencana di Sumsel tahun ini cenderung menurun dibanding 2016. Tahun lalu, tercatat 195 bencana di Sumsel dengan total korban tewas 12 jiwa.
"Tahun lalu paling banyak bencana banjir, kebakaran dan puting beliung. Ada juga banjir bandang dan longsor," ujarnya.
Sedangkan total kerugian bencana banjir tahun ini belum terdata. Namun, tahun lalu total kerugian cukup besar, yakni 605 hektar sawah rusak, 1.991 hektar kebun terendam, dan menyebabkan ribuan warga mengungsi.
"Memang tahun 2016 terbilang paling parah dibanding tahun-tahun sebelumnya dan tahun ini karena pengaruh cuaca," kata dia.
Tingginya angka bencana di Sumsel karena sejumlah daerah masuk kategori rawan banjir dan tanah longsor. Adapun daerah rawan tanah longsor berada di sekitar Bukit Barisan, seperti di Lahat, Pagaralam, OKUS, Empat Lawang, dan Muara Enim. Sedangkan banjir di Palembang, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin.
"Untuk menghadapi musim hujan tahun ini semua perlengkapan sudah siap. Tetapi kadang terkendala sulitnya akses menuju lokasi," kata dia.