Putri Candrawathi mengaku marah kepada Ferdy Sambo lantaran turut dilibatkan dalam skenario kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Kemarahan itu disampaikan Putri kepada majelis hakim dalam sidang lanjutan dugaan pembunuhan berencana Brigadir J dengan terdakwa Ricky Rizal (RR) alias Bripka RR, Richard Eliezer (RE) alias Bharada dan Kuat Maruf (KM).
"Saya mengetahui tanggal 9 Juli saat Yosua meninggal dunia, saya bertanya kepada suami saya. Ada apa tanggal 7 kemarin?" kata Putri saat memberikan kesaksian di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (12/12).
Putri mengatakan, Sambo saat itu baru mengaku bahwa Yosua sudah tidak ada. Sambo mengatakan bahwa ajudannya itu meninggal karena insiden tembak menembak dengan Richard Eliezer.
Mendengar keterangan Sambo tersebut, Putri mengaku hanya bisa menangis. Melihat Putri menangis, Sambo langsung meninggalkan Putri.
"Saya menangis dan suami saya pergi dari kamar," tutur Putri.
Advertisement
Kegeraman Putri
Namun Putri mengaku naik pitam ketika mengetahui bahwa Sambo juga sudah menceritakan skenario tembak menembak antara Brigadir J dan Bharada E kepada Kapolri dengan menyeret namanya.
"Saya kaget dan marah kepada suami saya. Saya menangis saya sampaikan ke suami saya, kenapa saya diikut-ikutkan oleh peristiwa tersebut?" kata Putri.
Sebagai informasi, pengakuan tentang insiden tersebut diketahui Putri di Rumah Saguling. Saat itu keduanya tengah berada kamar pribadi dan ketika Sambo ditanya ada hal apa yang terjadi saat tanggal 7 Juli 2022. Sebab, menurut pengakuan Putri, dirinya tidak tahu bahwa Yosua telah meregang nyawa di rumah tempatnya isolasi mandiri.
"Saya tidak tahu pada hari itu (Yosua meninggal). Suami saya jemput saya dari kamar, kepala saya diarahkan ke dadanya dan saya diminta untuk diantar ke Saguling oleh Ricky Rizal," Putri menutup.
Reporter: Muhammad Radityo Priyasmono/Liputan6.com