Puluhan radio kuno zaman Hindia Belanda dipamerkan di Solo

Radio yang dipamerkan itu sebagian besar buatan Eropa pada tahun 1930-1970-an.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Puluhan radio kuno zaman Hindia Belanda dipamerkan di Solo
Radio kuno. ©2014 merdeka.com/arie sunaryo

Sedikitnya 60 radio kuno berbagai merek sejak zaman Hindia Belanda dipamerkan di Balai Soedjatmoko, Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, 21-25 September 2014. Dalam acara bertajuk 'Layang Swara' tersebut radio yang dipamerkan itu sebagian besar buatan Eropa pada tahun 1930-1970-an.Panitia penyelenggara, Aryani mengatakan, salah satu negara paling besar memproduksi radio dalam pameran ini adalah Belanda."Indonesia kan merupakan bekas jajahan Belanda. Sebagian besar radio yang kita pamerkan mereknya adalah philips atau erres. Juga ada radio buatan Jerman seperti telefunken dan blaufunk," ujar Aryani saat ditemui, Minggu (21/9).Ketua panitia kegiatan, Hermanu menambahkan pameran tersebut untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Yakni agar mereka tahu betapa pentingnya radio pada zaman itu sebagai sumber informasi sebelum ada media cetak (koran) dan televisi.
Dijelaskan, pameran radio lama ini merupakan pameran kedua setelah 15 tahun yang lalu juga dipamerkan dengan mengambil tema 'Sekali di udara Tetap di Udara'.Sementara itu tema 'Layang Swara' mempunyai makna bunyi radio yang selalu hadir dalam setiap siaran radio. Pada pameran kali ini, juga melibatkan kelompok pecinta audio Yogyakarta Padmaditya dan beberapa kolektor radio dari Magelang, Semarang, dan Yogyakarta. Pada pameran kali ini pihaknya juga menyediakan sebuah buku katalog sebagai dokumentasi penting dalam radio dunia.Pantauan merdeka.com, selama pameran berlangsung, banyak pengunjung yang memanfaatkan momen itu untuk mengetahui lebih dalam tentang radio. Tak jarang mereka asik berfoto di depan koleksi radio kuno tersebut.

Rekomendasi